Tenaga Guru Honor Tanyakan Nasibnya | Pasific Pos.com

| 22 February, 2018 |

Tenaga Guru Honor Tanyakan Nasibnya

Papua Barat Penulis  Rabu, 10 Januari 2018 08:59 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Sekitar 49 guru honor di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari curhat tentang nasibnya yang terkatung-katung.

Ketua Parlemen Jalanan (Parjal) Provinsi Papua Barat, Ronald Mambieuw mengatakan, sebenarnya masih banyak guru honor, baik di tingkat TK dan SD yang nasibnya terkatung-katung.


Ironisnya, lanjut Mambieuw, berdasarkan pemantauan pihaknya pada apel pagi di lingkungan Pemkab Manokwari, terlihat jelas muka baru tenaga honor. “Pertanyaannya, apakah honorer ini benar-benar honorer yang telah bekerja dan mengabdi di atas 5 tahun,” tanya Mambieuw kepada Tabura Pos di Sekretariat Parjal, Selasa (9/1/18).


Atas kondisi itu, ia berharap instansi terkait tidak salah merekrut tenaga honor daerah, jangan hanya karena hubungan kedekatan dan emosional. Menurutnya, untuk membangun daerah yang lebih maju, maka Pemkab harus netral melihat siapa orang asli Papua yang sudah mengabdi di atas 5 tahun.


“Ada beberapa guru honor dari tingkat TK dan SD, mereka mengadi ke Parjal. Mereka menyampaikan uneg-uneg yang terkait nasib mereka selama mengabdi 5 tahun ke atas, bahkan ada yang mengabdi 12 sampai 13 tahun, tetapi sampai sekarang belum mendapat SK honor daerah,” kata Mambieuw.


Padahal, ungkap dia, di saat kepemimpinan Bupati Manokwari, Bastian Salabai, mereka sudah memasukkan dokumennya ke Pemkab Manokwari dan Bupati mengarahkan ke Dinas Pendidikan, tetapi sampai sekarang tidak ada realisasinya.


“Kami harap pemerintah bisa fokus terhadap guru-guru honor orang asli Papua, karena mereka loyal mengabdi cukup lama untuk pemkab dan bangsa ini. Kenapa mereka tidak diperhatikan, sementara yang lain-lain bisa diperhatikan,” tukasnya.
Dirinya menyarankan agar kepala daerah tidak mengeluarkan SK honor daerah untuk orang tertentu karena kepentingan atau hubungan emosional. “Jauh lebih baik SK honor daerah diberikan kepada guru-guru honor atau tenaga medis yang sudah mengabdi di atas 5 tahun,” pinta Mambieuw.


Di samping itu, ia berharap para kepala sekolah mulai PAUD hingga SMA dan SMK bisa memperhatikan para guru honor, jangan memberikan tugas mengajar terlalu berat, tetapi nasibnya tidak diperhatikan.


Ditanya tentang nasib tenaga medis yang berstatus honor, Mambieuw mengaku, berdasarkan hasil koordinasi dengan instansi terkait, disebutkan sudah maksimal, karena mereka jeli melihat para tenaga honor yang sudah mengabdi di atas 5 tahun.


Bahkan, ia mengatakan, dokumen tenaga medis honor sudah diserahkan ke Bupati dan Bupati sudah mengeluarkan SK honor daerahnya. “Jadi, SK tenaga medis yang honor sudah diterbitkan, hanya saja nasib guru honor yang masih terkatung-katung,” tukasnya.


Sementara guru honor yang enggan namanya disebutkan dan telah mengabdi selama 7 tahun, mengaku, dia bersama rekan-rekannya sudah menemui Bupati dan saat itu diarahkan ke Dinas Pendidikan.


Berdasarkan arahan Bupati, maka dirinya bersama rekan-rekannya mengumpulkan daftar honor dan daftar hadir mengajar untuk dimasukkan ke Dinas Pendidikan.


Namun, setelah dirinya dan teman-temannya ke Dinas Pendidikan untuk mengecek progress dari dokumen yang dimasukkan, ia mengatakan, Dinas Pendidikan menyatakan bahwa nomor surat dokumen ada, tetapi berkas yang dikumpulkan, tidak ada.


“Setiap 2 minggu kami ke Dinas Pendidikan untuk cek. Namun, begitu Kantor Dinas Pendidikan terbakar, tambah membuat nasib kami tidak jelas,” tukasnya.


Hal senada diutarakan guru honor di tingkat TK yang sudah mengabdi selama 12 tahun. “Saya sudah mengabdi 12 tahun terhitung 2006. Saat itu hanya 2 guru di TK sampai sekarang sudah banyak guru, tapi sampai sekarang saya belum dapat SK honor daerah,” katanya.


Dikatakannya, namanya sebenarnya sudah masuk dalam data base sejak 2007, tetapi dengan pergantian 2 kali kepala dinas, namanya sudah tidak ada lagi dalam data base.


Ditambahkannya, setiap pergantian kepala daerah, terjadi juga perubahan kabinet dan kebijakan, sehingga menjadi salah satu faktor yang membuat nasib guru honor semakin tidak jelas.


“Banyak teman-teman guru honor telah mengabdi lama di Manokwari, sering menanyakan nasib mereka seperti apa ke depan. Kalau masuk liburan, banyak oknum guru PNS menambah libur dan mereka membebankan pekerjaan mereka kepada kami tenaga honor,” ujarnya. [FSM-R1] 

Dibaca 185 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

Trending Topik