Legislator : Kalau OAP Hanya Dijadikan Bahan Hinaan, Lebih Baik 'Lepas Saja' | Pasific Pos.com

| 26 September, 2018 |

Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa. Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa.

Legislator : Kalau OAP Hanya Dijadikan Bahan Hinaan, Lebih Baik "Lepas Saja"

Headline Penulis  Senin, 08 Januari 2018 01:10 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Kadepa : "Ucapan Rasis Bukan Hanya Ditujukan Kepada Filep Karma, Tapi Sudah Sering Diterima OAP Lainnya."

 

Jayapura, - Legislator Papua, Laurenzus Kadepa menegaskan, ucapan rasis yang kerap ditujukan kepada orang asli Papua bukan hanya dialami tokoh Papua merdeka, Filep Karma beberapa waktu lalu ketika diperiksa petugas di Bandara Soekarno-Hatta, karena ucapan yang sama sudah sering diterima orang asli Papua lainnya.

Bahkan ujar Kadepa, kata-kata rasis juga pernah dialamatkan kepada mantan komisioner Komnas HAM RI, Natalius Pigai, mahasiswa Papua di Yogyakarta Obi Kogoya, dan kata-kata itu juga pernah ditujukan kepada pemain dan pendukung tim Persipura.

"Namun terlepas dari kepentingan Papua merdeka, Filep Karma ini adalah seorang tokoh. Bahkan beliau ini mampu bertahan di penjara karena idealismenya. Dan kalau orang asli Papua yang berpendidikan saja disebut seperti itu, lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak berpendidikan," ujar Kadepa lewat via teleponnya, Sabtu (6/1/18).

Menurut Politisi NasDem ini, ucapan rasis yang selama ini dialamatkan kepada orang asli Papua adalah “monyet”. Namun di Papua tidak ada “monyet”. Ucapan "babi" lebih baik daripada monyet, karena sejak zaman leluhur, orang asli Papua telah memelihara babi.

“Ini sudah menciderai Kebhinekaan di negara ini. Dimana Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Apakah ini cara mengaplikasikannya," tandas Kadepa yang juga merupakan Anggota Komisi I DPR Papua.

Bahkan tandas Kadepa, kalau orang asli Papua hanya akan dijadikan bahan hinaan, serta olokan, lebih baik dilepaskan saja. Biarkan mereka menentukan nasibnya sendiri ke depan.

“Lebih bagus monyet tapi berpikir manusia, dari pada manusia, tapi berpikir hewan," tutup Kadepa. (TIARA)

Dibaca 767 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.