Masih Ada Miras, di Mana Power Kepemimpinan Kepala Daerah | Pasific Pos.com

| 17 December, 2017 |

Masih Ada Miras, di Mana Power Kepemimpinan Kepala Daerah

Papua Barat Penulis  Kamis, 07 Desember 2017 18:09 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokawari, TP - Ketua Gembala Sidang Jemaat GKAI Bethesda, Rendani, Manokwari, Pdt. Musa Opur tetap menentang keberadaan dan peredaran minuman keras (miras) di Kabupaten Manokwari, yang dijuluki Kota Injil.

Selaku hamba Tuhan, Musa Opur menjelaskan, kitab Efesus Pasal 5 Ayat 18 berbunyi: Janganlah kamu mabuk oleh Anggur, karena Anggur menimbulkan hawa nafsu.

“Jadi, dampak dari mengonsumsi miras adalah menimbulkan hawa nafsu. Dalam konotasinya, nafsu untuk memiliki, nafsu untuk menjual barang yang dilarang dalam agama, nafsu untuk menjadi kaya, yang dari semua itu bisa memberikan dampak buruk bagi kehidupan orang lain,” tukas Musa OPur kepada Tabura Pos di Gedung GKAI Bethesda, Rendani, Rabu (6/12/17).

Terkait masih maraknya peredaran miras di Manokwari, ia mengatakan, sangat tidak etis jika suatu daerah harus dikuasai miras. Artinya, jelas dia, jika suatu daerah masih dikuasai miras, berarti membuktikan bahwa kepemimpinan pejabat daerah tersebut tidak teratur. Ia menambahkan, jika Perda Miras masih berlaku, maka harus diwujudkan melalui kepemimpinan seorang kepala daerah.

“Media pernah memberitakan dengan besar ada ratusan karton miras ditangkap dari salah satu toko, tetapi ternyata jebol juga, masih ada miras yang beredar dan dapat dibeli dengan mudah. Terus di mana power kepemimpinan kepala daerah,” kata Musa Opur.

Untuk itu, ia menyarankan sebaiknya Perda Miras dipertegas, karena dengan aturan yang tegas, semua akan terarah dan tertib.

Di samping itu, Musa Opur meminta Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan dan Bupati Manokwari, Demas P. Mandacan bisa mengawal ketat miras yang sudah disita dan disimpan.

“Sebagai hamba Tuhan, saya siap kawal untuk mendukung Manokwari sebagai Kota Injil yang bebas miras. Saya juga berharap supaya siapa pun pemimpin di atas tanah ini, harus tegas,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan C. Warinussy, SH mengatakan, salah satu langkah efektif menindak dan memberantas miras di Manokwari, yakni Bupati Manokwari harus berkoordinasi dengan Gubernur Papua Barat, Kapolda Papua Barat, dan Pangdam XVIII Kasuari.

“Tidak hanya Bupati mengandalkan Polres dan Kodim, karena di sini ada satuan lain, ada Polda, Brimob, Kodam, Yonif 752, dan aparat lainnya,” kata Warinussy kepada Tabura Pos di Kejari Manokwari.

Menurutnya, dengan koordinasi secara baik untuk menindak dan mencegah peredaran miras, barulah bisa menjamin peredaran miras dapat dikendalikan dan ditekan, termasuk penyalahgunaan miras.

Ia mencontohkan, belum lama ini ada penangkapan ribuan botol miras jenis Vodka yang dilakukan Satpol PP Provinsi Papua Barat, tetapi dalam proses penindakan, mereka terkendala terkait perizinan.

“Yang pegang perizinan bukan Gubernur, tetapi kabupaten, dalam hal ini Bupati. Untuk itu, perlu ada koordinasi yang baik. Tapi menurut saya, Bupati, Kapolres, dan Dandim harus menjadi pihak terdepan untuk mengamankan Perda Miras yang sudah diberlakukan sekian tahun, termasuk dalam hal penindakan, harus berkoordinasi baik. Misalnya, aparat keamanan melakukan penggerebekan, ternyata pemasok miras di sini adalah salah satu oknum aparat keamanan. Semua ini karena tidak ada koordinasi yang baik. Kalau tidak ada koordinasi yang baik, saya pikir tindakan pemberantasan miras tidak akan berjalan efektif,” papar Warinussy.

Disinggung tentang adanya bekingan dari oknum aparat keamanan terhadap pemasokkan dan peredaran miras di Manokwari, Warinussy menjelaskan, hal itu terjadi karena tidak ada koordinasi dalam hal penindakan dan penegakkan hukum.

Oleh sebab itu, ia menyarankan Bupati harus mengambil peran terdepan bersama Kapolres, Dandim, termasuk level lebih tinggi, yakni Pangdam, Kapolda, Kasat Brimob, dan satuan lain.

“Kalau koordinasi tidak dilakukan dengan baik, saya pikir pasti ada pihak-pihak yang bermain secara diam-diam,” tukasnya. [BOM/FSM-R1]

Dibaca 88 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.