Kasus Malaria Tertinggi di Kampung Waroser | Pasific Pos.com

| 17 December, 2017 |

Kasus Malaria Tertinggi di Kampung Waroser

Papua Barat Penulis  Kamis, 07 Desember 2017 18:02 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Ransiki, TP – Terhimpun, kasus malaria di wilayah Manokwari Selatan (Mansel), tertinggi terjadi di kampung Waroser Distrik Oransbari Kabupaten Mansel.

Kepala Bidang P2M, Martinus Ainusi mengatakan, jika beberapa waktu lalu  data yang diperoleh dari Kadid P2M jumlah total penduduk di distrik Oransbari mencapai 5.629 orang dengan total penderita malaria  sebayak  1258 orang.

“Artinya, orang dengan jumlah tertinggi kampung Waroser sebanyak 531 orang dan penderita malaria sebanyak 224 orang, untuk distrik Ransiki  dengan jumlah 10. 969 orang penduduk dengan total penyakit malaria sebanyak 270 orang. Kampung Abreso 103 orang untuk distrik Momi Waren dengan total penduduk  3242 orang dengan jumlah penderita penyakit malaria sebanyak   346 orang. Jumlah tertinggi berada di kampung Dembek dengan total penderita penyakit malaria sebanyak 214 orang,” jelasnya.

Untuk di distrik Tahota, sebanyak 12 orang. “Penderita penyakait malaria yakni tertingi di kampung Saimeba   RK4 sementara distrik Isim terdapat  55 kasus malaria dengan jumlah tertinggi di kampung Dubes dengan total penderita malaria sebanyak 38 orang,” jelasnya.

Kendati demikian, aku Ainusi pihaknya telah berusaha untuk menangani masalah malaria di kabupaten Manokwari Selatan dengan memberikan sosialisasi mengenai kebersihan lingkungan, serta memberikan kelambu kepada warga masyarakat kabupaten Manokwari Selatan.

Selama ini, menurut dia banyak masyarakat yang mengeluh sakit demam dan sakit kepala kemudian diperiksa dengan menggunakan RDT. Menurutnya, alat tersebut sering kali mengalami  gangguan sehingga tidak bisa mendeteksi penyakit dengan akurat.

“Akhirnya, harus diperiksa lagi dengan menggunakan mikroskop agar hasilnya tepat. Apabila salah satu keluarga terdeteksi positif malaria, maka kemungkinan besar dalam keluarga tersebut ada yang sudah mengidap malaria,” tukasnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, sesuai dengan program yang dicanangkan secara nasional, Indonesia harus bebas malaria pada 2030 mendatang. Dirinya optimis, Kabupaten Mansel bisa mencapai target apabila diimbangi dengan dukungan dana yang memadai.

Disinggung soal kerjasama antara dinas kesehatan kabupaten Mansel dengan dinas kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, kata dia berbagai ilmu telah dipelajari dari tim medis Kabupaten Teluk Bintuni.

Untuk itu, dirinya berharap, ke depan kasus-kasus malaria sudah bisa tertangani dengan baik di Mansel, dan bisa melahirkan inovasi dalam penanganan malaria di Mansel.

“Dalam kerja sama beberapa waktu lalu, kita juga sempat belajar dari teman-teman yang dari Bintuni bagamana cara menangani malaria, sehingga saya berharap bila mana kita sudah tahu caranya kita bisa mengatasi sendiri masalah malaria di Mansel ini,” tutupnya. [CR35-R3]

Dibaca 106 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

Trending Topik