Program Pengembangan Precetorship Pada Perawat Yang Akan Mengalami Proses Promosi Jabatan Di Rumah Sakit | Pasific Pos.com

| 22 February, 2019 |

Program Pengembangan Precetorship Pada Perawat Yang Akan Mengalami Proses Promosi Jabatan Di Rumah Sakit

Opini Rabu, 22 November 2017 01:14 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

    Pengaturan dan pengelolaan dalam pelayanan keperawatan selalu membutuhkan sistem manajerial keperawatan yang tepat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan seluruh sumber daya keperawatan dalam menghasilkan pelayanan keperawatan yang efektif, berkualitas, bermutu, dan prima. Faktor internal yang mendukung pelayanan keperawatan yang bermutu antara lain motivasi pengembangan karir profesional dan tujuan pribadinya serta faktor eksternalnya yaitu kebijakan organisasi, kepemimpinan, struktur organisasi, sistem penugasan, dan sistem pembinaan. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa setiap peningkatan mutu pelayanan kesehatan harus diikuti ataupun disertai dengan peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Oleh karena itu perawat menjadi kunci dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan, hal ini didasarkan kenyataan bahwa 60% lebih pelayanan di rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan dan hampir semua pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit di rumah sakit atau di tatanan pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat.

    Keberhasilan pelayanan keperawatan yang baik adalah dengan melakukan pelayanan secara menyeluruh, terus menerus atau keberlanjutan dalam berbagai macam keadaan di lapangan, dan sedapat mungkin mencapai hasil seperti yang diharapkan. Untuk itu diperlukan tenaga yang terampil, sarana dan prasarana yang baik, serta sistem monitoring berkala yang memadai. Selain itu dibutuhkan juga berbagai sumber daya yang harus diatur dengan fungsi manajemen keperawatan secara baik.

    Manajemen keperawatan adalah suatu bentuk koordinasi dan integrasi dari sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan. Hal ini tentu perlu didukung oleh seorang manajer yang mempunyai kemampuan manajerial yang mumpuni dan handal untuk melaksanakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian aktivitas-aktivitas di dalam pelayanan keperawatan.

    Koordinasi yang dilakukan seorang manajer keperawatan bertujuan untuk memberikan suatu arahan kepada sejawat sesuai tujuan yang telah disepakati bersama dan dalam rangka mempertahankan segala kegiatan yang telah terprogram agar dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Koordinasi ini biasanya berbentuk supervisi kerja yang dilakukan oleh kepala bidang keperawatan, case manager, kepala ruang, ataupun ketua tim keperawatan. Supervisi dalam keperawatan bukan hanya sekedar kontrol, kegiatan supervisi juga mencakup penentuan kondisi-kondisi atau syarat-syarat personal maupun material yang diperlukan untuk tercapainya tujuan asuhan keperawatan secara efektif dan efisien.

    Seorang manajer keperawatan selalu dihadapkan dengan berbagai masalah yang kompleks terkait manajemen rumah sakit terutama dalam pemberian asuhan keperawatan. Kepemimpinan seseorang akan mempengaruhi kinerja orang yang dipimpinnya. Fungsi kepemimpinan menurut Huber (2006) adalah fungsi manajemen yang mengarahkan dan kemudian mempengaruhi individu tersebut untuk mengikuti arahan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah disepakati dan yang telah ditentukan. Fungsi kepemimpinan menurut Fayol dalam Robins & Coulter (2007) adalah fungsi yang memotivasi stafnya ketika stafnya bekerja dan mencari berbagai cara untuk menyelesaikan masalah perilaku stafnya. Kepemimpinan ini pun akan berpengaruh terhadap pelaksanaan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian aktivitas keperawatan. Mcgregor Burns mengidentifikasi dua jenis kepemimpinan yaitu kepemimpinan transaksional yang mencakup hubungan pertukaran antara pemimpin dan pengikut, serta kepemimpinan transformasional yang lebih mendasar pada pergeseran nilai dan kepercayaan pemimpin, serta kebutuhan pengikutnya.

    Kepemimpinan transformasional seringkali dipersandingkan dengan kepemimpinan transaksional, karena setiap perilaku kepemimpinan melahirkan transaksi antara pemimpin dan yang dipimpin. Meskipun ada perbedaan esensial antara kedua jenis kepemimpinan tersebut, perbedaan itu bukan atas dasar tujuan yang dikehendaki, melainkan pada perilaku, dimana yang satu mengedepankan ke arah transformasi, sementara yang lainnya mengarah ke transaksi.

    Pada setiap waktu pimpinan keperawatan di rumah sakit yang melaksanakan fungsi manajemen keperawatan dapat berganti baik itu di posisi kepala bidang, case manager, kepala ruang, ataupun ketua tim pelaksana keperawatan yang disesuaikan dengan kebijakan tiap rumah sakit disetiap waktunya. Hal yang menjadi masalah ketika terdapat perawat yang baru pertama kali menjabat sebagai salah satu posisi jabatan manajer tersebut. Walaupun seorang perawat tersebut memiliki pengalaman bekerja lama di sebuah rumah sakit, namun pengalaman tidak menjadi jaminan bahwa fungsi manajerial akan dapat berjalan langsung sesuai dengan harapan. Perlu adanya proses adaptasi terhadap jabatan yang baru diemban serta lingkungan kerja yang berbeda dari sebelumnya. Harapan pihak rumah sakit terhadap perawat tersebut yaitu tidak terlalu lama dalam beradaptasi manjadi seorang manajer keperawatan, namun pada faktanya proses adaptasi biasanya berlangsung lama dan hal ini dapat menghambat fungsi manajemen di rumah sakit yang berdampak pada pelayanan keperawatan. Sistem yang terjadi di rumah sakit di Indonesia yang biasanya melakukan program promosi jabatan terutama di bagian keperawatan yaitu memberikan jabatan manajerial keperawatan kepada seorang perawat tanpa permberian program persiapan dan pendampingan yang intens dan terstruktur. Mereka perawat yang baru pertama kali menjadi seorang perawat manajer hanya mendapat arahan dan pelatihan secara singkat saja terkait kepemimpinan dan manajerial di rumah sakit. Hal ini yang membuat lahirnya seorang manajer dan pemimpin keperawatan yang hanya berbekal pengalaman dan pelatihan singkat saja dalam memimpin manejemen keperawatan dan faktor ini yang membuat proses adaptasi para manajer keperawatan baru berlangsung lama.

    Kelly dan Ahern (2009) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa diperlukan adanya pemberian persepsi positif terhadap peran perawat dengan fungsi barunya yang nantinya akan menjadi perawat yang teregistrasi dengan fungsinya tersebut. Menurut Kelly dan Ahern terdapat suatu budaya di keperawatan yaitu pendampingan yang terbatas terhadap perawat yang memiliki fungsi atau jabatan baru menyebabkan mereka tidak siap menerima tugas yang belum dikenalnya dengan baik. Hasil penelitian dari Casey, Fink, Krugan, dan Propst (2004) tentang pengalaman perawat yang diberikan tugas dan jabatan baru bahwa mereka cenderung kurang nyaman, kurang percaya diri, dan kurang terampil pada masa 1 tahun pertama. Mereka membutuhkan orientasi, motivasi, dan program dukungan yang intens untuk memfasilitasi mereka dalam menjalankan peran barunya.

    Apabila penugasan profesional dilakukan oleh seorang manajer atau supervisor keperawatan yang telah menguasai dan mengerti terhadap hal yang akan dikerjakannya dan dinyatakan telah siap menjalankan fungsinya, maka para perawat yang berada di bawah koordinasinya akan dapat menguasai masalah pasien mulai dari pengkajian sampai evaluasi tindakan keperawatan. Hal ini tentunya akan berakibat pada peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Walaupun manajer perawat itu merupakan orang yang baru memegang jabatan tersebut namun apabila orang tersebut telah siap dari berbagai segi kompetensi dan kepemimpinan yang dia miliki maka nantinya roda pelayanan rumah sakit tetap berjalan dengan lancar sesuai dengan arah dan fungsinya. Salah satu cara dalam mempersiapkan seorang manajer keperawatan yang handal dan siap diberikan promosi jabatan baru adalah dengan metode precetorship.

    Menurut NMC (Nurse Midwifery Council di UK 2009) mendefinisikan preceptorship sebagai suatu periode (preceptorship) untuk membimbing dan mendorong semua praktisi kesehatan baru yang memenuhi persyaratan untuk melewati masa transisi bagi perawat untuk mengembangkan kemampuannya sesuai dengan bidang yang diamanatkannya. Namun dewasa ini model precetorship biasanya hanya diterapkan pada para perawat baru yang sedang magang dan para mahasiswa yang melakukan program praktek di rumah sakit. Metode tersebut sama sekali belum pernah diterapkan untuk mempersiapkan para manajer keperawatan baru yang akan mengalami proses promosi jabatan. Dengan metode yang diterapkan pada manajer keperawatan diharapkan para manajer baru dapat beradaptasi dengan cepat dan tepat dalam melanjutkan kepemimpinan manajerial keperawatan di rumah sakit. Berdasarkan fenomena dan berbagai penjelasan diatas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut terkait tema precertoship yang ditunjukkan kepada calon manager keperawatan yang baru.


Promosi Jabatan dan Precetorship

    Ada berbagai macam hal ataupun bentuk promosi jabatan yang terjadi di rumah sakit. Misalnya perawat yang akan mengalami promosi jabatan dari perawat pelaksana menjadi seorang ketua tim keperawatan atau sebagai seorang kepala ruang. Pada proses pemilihannya tergantung pada kebijakan di masing-masing rumah sakit. Terdapat pemilihan kepala bidang keperawatan, case manager, kepala ruang, dan ketua tim yang dipilih secara langsung berdasarkan pengamatan subyektif dari pemerintah dan petinggi rumah sakit. Proses ini biasanya terjadi di rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah pusat maupun daerah. Namun ada juga pada rumah sakit negeri ataupun swasta yang akan mempromosikan perawatnya untuk mengalami promosi jabatan melalui seleksi dan kredensial sesuai dengan standard manager yang telah ditetapkan. Biasanya seleksi dan kredensial tersebut meliputi uji administrasi, tes psikologi dan kepemimpinan, dan tahapan wawancara. Namun rata-rata yang menjalankan bentuk promosi jabatan menggunakan sistem atau model itu adalah rumah sakit swasta.

    Perawat adalah koordinator, integrator, dan kolabolator, merencanakan asuhan keperawatan yang akan diberikan mulai pasien diterima sampai pulang, perawat sebagai seorang manager kasus yang akan menjadi tanggung jawabnya, melalui disusunnya critical pathway untuk pasien. Seorang manager keperawatan harus dapat menjamin agar pasien memperoleh pertolongan dan perawatan yang dibutuhkan secara lintas fungsi. Selain itu manager keperawatan bertanggung jawab atas pelaksanaan program pemeriksaan penunjang dan pelaksanaan terapi yang telah ditentukan, agar pelayanan kepada pasien diberikan dengan baik sesuai standard sehingga kepuasan pasien meningkat. Seorang manajer keperawatan juga perlu memastikan agar pelayanan kesehatan yang baik itu dapat diberikan dengan berkesinambungan dan berkualitas unggul. Dengan banyaknya tanggung jawab seorang manager keperawatan diperlukan proses seleksi, pendidikan, serta pengarahan yang baik sehingga ketika seorang manager keperawatan terpilih dapat langsung mengemban fungsinya secara benar dan lancar.

    Seseorang yang mendapatkan tugas atau pekerjaan baru dengan segala situasi dan kondisi yang juga baru pada umumnya memerlukan orientasi secara langsung untuk mempermudah dalam memulai dan bekerja dengan baik sesuai capaian yang telah disepakati sebelumnya. Brouchier (2008) dalam penelitiannya mengatakan bahwa program orientasi perlu dirancang untuk mengurangi kecemasan terhadap para pemangku jabatan baru. Orientasi adalah suatu proses penyesuaian pegawai baik yang lama ataupun baru dengan lingkungan kerja yang baru sehingga dia dapat berhubungan cepat dan efektif terhadap lingkungan baru. Orientasi sesungguhnya merupakan suatu komponen dari proses individu yang memilki tanggung jawab ataupun pekerjaan yang baru. Sosialisasi adalah proses yang terus berjalan berupa pananaman dalm diri karyawan tentang sikap, standard, nilai, dan pola perilaku yang diharapkan oleh organisasi dan institusinya.

    Pendekatan dan metode orientasi yang sering digunakan oleh organisasi atau institusi kesehatan untuk mendamping seseorang yang memiliki tugas baru dengan lingkungan baru yang biasanya identik dengan perawat baru yaitu program precetorship. Kebutuhan preceptor merupakan persyaratan konsil keperawatan untuk meningkatkan asuhan keperawatan, menurunkan tingkat kecemasan dari perawat baru, meyakinkan bahwa tanggung jawab tidak segera diberikan pada perawat baru.

    Menurut Smedley (2009) preceptorship adalah perawat berpengalaman yang memberikan dukungan emosional dan merupakan model peran klinis yang kuat bagi perawat yang mengemban fungsi baru. Preceptor juga membantu perawat yang memiliki fungsi atau tugas baru untuk mempelajari rutinitas, kebijakan, dan prosedur di suatu unit. Preceptor penting untuk keberhasilan perkembangan seorang perawat dari seorang pemula manjadi praktisi dan profesional ahli. Dalam precertoship sebenarnya bukan hanya memberikan suatu gambaran mengenai orientasi fungsi dan peran baru kepada seseorang, namun terdapat juga penanaman jiwa kepemimpinan dan manajerial didalamnya dimana individu tersebut setidaknya dapat mengatur dan memimpin dirinya sendiri dalam melaksanakan peran yang diembannya serta dapat memutuskan suatu hal dengan cermat dan tepat pada berbagai macam situasi dan keadaan.
         

Analisis Situasi dan Aplikasi Program Precetorship Pada Perawat Yang Mengalami Proses Promosi Jabatan

    Pada awalnya program precetorship hanya digunakan ataupun diterapkan pada perawat baru yang sedang mengalami proses magang. Selain itu program ini saat ini diterapkan pada proses bimbingan mahasiswa keperawatan yang sedang melakukan praktek klinik di rumah sakit. Namun pada pengembangannya program precetorship ini dapat dikembangkan dan diterapkan pada level manager keperawatan yang akan mengalami proses promosi jabatan. Terkadang para pemangku jabatan baru seperti kepala bidang keperawatan, case manager, kepala ruang, dan ketua tim tidak begitu paham dan mengerti akan pekerjaan barunya. Mereka hanya belajar sesaat terkait fungsi barunya dan proses belajar mereka akan berlanjut saat mereka telah menjabat pada jabatan barunya. Hal ini yang biasanya menjadi penghambat dalam jalannya proses pelaksanaan fungsi jabatan dimana yang seharusnya seseorang telah siap bekerja pada saat diberikan jabatan namun ketika telah menjabat masih belajar terkait pekerjaan yang harus dikerjakannya. Tentu dapat dibedakan antara proses belajar perawat baru dengan proses belajar perawat yang telah memiliki pengalaman dan bekerja lebih lama di rumah sakit. Disinilah peran precetorship yang dapat diterapkan dalam promosi jabatan baru perawat.

    Program precetorship pada perawat yang mengalami proses promosi jabatan dapat mulai dilakukan sejak 2-6 bulan sebelum perawat yang bersangkutan benar-benar telah menjabat fungsi barunya. Lama program precetorship bervariasi yaitu antara 8 minggu hingga setengah tahun bagi perawat yang telah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Pada saat telah terpilih di posisi jabatan baru, perawat yang bersangkutan nantinya akan mengikuti proses procetorship dengan cara telah bergabung di unit jabatan baru namun belum secara resmi menjabat jabatan baru tersebut. Di tempat dan jabatan baru perawat akan mulai ikut mengamati dan menganalisis apa saja yang harus dikerjakan pada posisi jabatan tersebut. Untuk preceptor yang akan mengorientasi dan mensosialisasikan fungsi jabatan tersebut adalah perawat yang saat ini masih menjabat diposisi yang bersangkutan. Biasanya hal yang menjadi kendala adalah ketika 2-6 bulan sebelum jabatan baru diterima, jabatan yang sebelumnya masih menjadi tanggung jawab di waktu bersamaan dengan magang. Secara otomatis pihak manajerial keperawatan atau rumah sakit harus pintar dan jeli dalam membagi jadwal perawat sehingga dapat mengikuti proses preseptorship dan tetap dapat menjalankan tugas ranah kerjanya yang sekarang.

    Dalam proses precetorship perawat yang akan mengalami promosi jabatan harus disesuaikan dengan karakter pribadinya masing-masing karena beberapa perawat dirumah sakit yang akan promosi jabatan mempunyai latar belakang sarjana keperawatan, dengan latar belakang tersebut perawat tersebut sudah mendapatkan ilmu tentang manajemen keperawatan. Selain itu sebagian perawat pun pasti sudah menempuh pendidikan informal tentang menejemen keperawatan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa seharusnya mereka mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah mereka dapatkan tetapi perawat dalam mengaplikasikan ilmu tersebut membutuhkan dukungan, pembinaan dan pendampingan tentang bagaimana cara mengaplikasikanya. Disinilah peran precetorship yang nantinya akan membentuk suatu karakter pemimpin baru yang telah siap untuk memegang jabatan baru begitu perawat tersebut dilantik.
         
    Pada pergantian posisi jabatan di manajerial keperawatan diperlukan adanya persiapan yang diberikan kepada perawat yang akan menjabat posisi tersebut dalam melaksanakan peran dan fungsinya agar dapat berjalan baik dan optimal. Program precertorship yang awalnya hanya diberikan ke mahasiswa perawat baru yang akan memulai praktek klinik di rumah sakit atau para perawat baru yang baru diterima di suatu rumah sakit, dapat dimanfaatkan oleh pihak manajemen keperawatan dalam mempersiapkan seorang perawat yang akan menerima promosi jabatan baru terutama di manajerial rumah sakit. Program ini nantinya dapat menjadi sarana bertukar ilmu dan pengalaman sesama manajer dalam proses promosi jabatan dan harapannya seorang manajer baru perawat yang baru pertama kali menjadi seorang manajer atau pemimpin di unitnya masing-masing tidak kebingungan, merasa kurang percaya diri, minder, ataupun memerlukan proses adaptasi yang panjang lagi ketika sudah memegang jabatan tersebut.   

    Suatu inovasi atau terobosan baru yang belum teruji atau terbukti manfaatnya yang akan diterapkan di suatu institusi atau organisasi biasanya akan kalah dengan sistem yang telah diterapkan sejak lama dan membudidaya. Begitu halnya dengan penerapan program precetorship yang nantinya akan diterapkan pada proses promosi jabatan perawat yang akan mengemban fungsi dan peran yang baru. Perlu adanya seorang pemimpin transformasional yang dapat merubah suatu inovasi menjadi solusi dimana pada konteks ini program precertoship yang diterapkan pada proses promosi jabatan pada manajemen keperawatan. Sehingga masalah yang biasanya terjadi pada manajer baru keperawatan seperti proses adaptasi terhadap peran barunya yang berlangsung lam dan sebagainya tidak akan terjadi kembali. 

 

Erlangga Galih Z.N., S.Kep., Ners. Author : Erlangga Galih Z.N., S.Kep., Ners

Mahasiswa Magister Keperawatan, Konsentrasi Keperawatan Dewasa Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang

 

Dosen Pembimbing  : Dr. Meidiana Dwidiyanti, S.Kp., M.Sc

Dosen Program Magister Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Dibaca 887 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.