Pasific Pos.com | KPK: Indeks Kebahagiaan Papua Rendah

  |  21 September, 2017

Sekda Papua Hery Dosinaen, Kapolda Irjen Pol. Boy Rafli Amar, Anggota Tim KPK, Asep Haerulloh dan pejabat lainnya saat membuka kegiatan Kolaborasi Tunas Integritas Nasional II 2017 di Jayapura, Selasa (12/9/17). Sekda Papua Hery Dosinaen, Kapolda Irjen Pol. Boy Rafli Amar, Anggota Tim KPK, Asep Haerulloh dan pejabat lainnya saat membuka kegiatan Kolaborasi Tunas Integritas Nasional II 2017 di Jayapura, Selasa (12/9/17).

KPK: Indeks Kebahagiaan Papua Rendah

Info Papua Penulis  Selasa, 12 September 2017 20:39 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,- Sebagai tuan rumah penyelenggaraan Kolaborasi Tunas Integritas Nasional II tahun 2017, diharapkan dapat mendorong peningkatan Indeks Kebahagiaan Papua yang selama ini masih sangat jauh tertinggal dari Provinsi lain di Indonesia.

Sebab berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukkan, Indeks Kebahagiaan atau Index of Happiness Papua masih berada di angka 60,09 persen.
Dimana salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat adalah berdasarkan tingkat kebahagiaan masyarakat.

Anggota Tim KPK, Asep Haerulloh dalam arahannya pada pembukaan kegiatan Kolaborasi Tunas Integritas Nasional II 2017 di Jayapura, Selasa (12/9/17) mengatakan, untuk memperoleh Indeks kebahagiaan yang lebih baik maka harus dimulai dari para pemimpin di jajaran pemerintahan mulai dari tingkat pusat hingga ke daerah dan juga jajaran BUMN/BUMD untuk bagaimana menciptakan budaya berintegritas agar terhindar dari praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Dikatakan, Indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial. Kesepuluh aspek tersebut secara substansi dan bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap: 1) kesehatan, 2) pendidikan, 3) pekerjaan, 4) pendapatan rumah tangga, 5) keharmonisan keluarga, 6) ketersediaan waktu luang, 7) hubungan sosial, 8) kondisi rumah dan aset, 9) keadaan lingkungan, dan 10) kondisi keamanan.

"Mudah mudahan dengan kolaborasi ini akan jadi energi luar biasa. Apalagi papua untuk indeks kebahagiaan masih di 60,9 persen dan masih jauh dibandingkan provinsi yang lain. Oleh karena itu saya yakin Papua nanti ke depan sesuai dengan semangatnya 'go international' yakni dengan semangat gotong royong, integritas, religius dan profesional itu yang membawa papua bisa  berkelas dunia. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh pimpinan, bagaimana bersama dengan tunas integritas yang lain berkolaborasi untuk mewujudkan hal itu," harap Asep.

Diungkapkan, saat ini sebuah negara jika ingin berbicara kelas dunia, indikatornya sudah beralih jadi bukan lagi bagaimana saling maju tapi sekarang bersaing untuk bagaimana bisa saling membahagiakan.

"Ada indikator menyebutkan 'World Happy Index' atau Indeks Kebahagian Dunia, dan negara kita masih ada di jajaran peringkat 80-an. Kita berharap sepuluh tahun ke depan bisa masuk lima besar, oleh karena itu bagaimana dari awal kita berkomitmen untuk mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bahagia," harapnya lagi.

Oleh karena itu, Asep mengajak seluruh Klub Tunas untuk sering melakukan pertemuan minimal setiap dua tahun sekali. Agar Tunas dapat terus bertumbuh.

"Dengan silaturahmi seperti inii ada hal yang spesifik yang dibahas bersama KPK terkait budaya integritas. Jadi ikatan yang dibangun ini bukan ikatan sembarangan tapi ikatan batin," tukasnya.

Di kesempatan itu, Asep juga menyampaikan ucapan terima kasih karena dari pertama kegiatan Kolaborasi ini diadakan pada 2015 silam hanya dihadiri sedikitnya 12 Klub, maka pertemuan kali ini sudah menjadi 139 klub yang berasal dari jajaran Kementerian/Lembaga, pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota serta jajaran BUMN/BUMD.

"Dari 130 Klub yang sudah ada setidaknya baru 60 yang telah mengikuti Workshop dan dari 60 itu setidaknya ada 20 klub yang sudah membangun panduan pembangunan budaya integritas. Bahkan beberapa diantaranya saat ini sedang berupaya untuk menjadikannya Peraturan Daerah (Perda)," jelasnya.

Dengan kolaborasi ini KPK berharap ke depan dalam melaksanakan pembangunan budaya integritas  tidak akan menemui kesulitan.

"Jadi kalau di awal untuk menyusun panduan maka butuh berapa kali pertemuan, tetapi untuk sekarang dengan adanya kolaborasi itu maka proses pembangunan panduan nya pun relatif lebih cepat," imbuhnya.

Lebih jauh kata Asep, pihaknya (KPK-red) selalu terdepan untuk pemberantasan korupsi dan terdepan untuk pencegahan melalui pembangunan budaya integritas. Beruntung yang hadir para pejabat, sebab menurutnyaintegritas dibangun melalui kekuatan atau power sehingga yang jelek dihancurkan.

"Jadi hancurkan KKN tegakkan Integritas.  Dan sekali lagi ini butuh kekuatan sebab kejahatan termasuk korupsi sudah merajalela akibat diamnya orang baik dan berintegritas. Oleh karena itu mari kita kita menggeser kekuatan kekuasaan itu dengan menghadirkan orang  berintegritas didalaminya," ajaknya.

Dibaca 28 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.