Pasific Pos.com | Nikahi Siri, Mantan Sekda Kabupaten Jayapura Peloroti Harta Janda 1 M

  |  21 September, 2017

Korban didampingi Ketua WGAB, Harry Affar menunjukkan foto LA yang kini tak diketahui keberadaannya, akhir pekan kemarin. Korban didampingi Ketua WGAB, Harry Affar menunjukkan foto LA yang kini tak diketahui keberadaannya, akhir pekan kemarin.

Nikahi Siri, Mantan Sekda Kabupaten Jayapura Peloroti Harta Janda 1 M

Kriminal Penulis  Minggu, 10 September 2017 19:01 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA – Nasib apes dialami Nur, warga Bekasi, Jawa Barat. Pasalnya, ia harus kehilangan uang dan harta miliknya lantaran dipeloroti oleh mantan pejabat di Papua, berinisial LA.

Akibatnya, ia mengalami kerugian hingga Rp 1 miliar lebih, lantaran aset miliknya berupa rumah,  mobil Terios dan Xenia, uang tunai ratusan juta dipinjam dan tak dikembalikan oleh LA, termasuk uang yang dipinjam untuk melunasi pembayaran apartemen City Resort di Cengkareng milik LA.

Kepada istri sirinya beralasan uang itu digunakan untuk membiayai pilkada saat ia mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Jayapura pada tahun 2011.

  Kepada wartawan, Nur sempat menceritakan awal pertemuannya dengan LA di Jakarta, dimana saat LA sempat membeli mobil di show room miliknya. Komunikasi dengan LA terus berlanjut, lantaran LA membeli mobil melalui korban yang saat itu berstatus janda tersebut untuk dikirim ke Jogjakarta.

“Dari sini berawal, hingga akhirnya dinikahi secara siri oleh LA pada tahun 2009,” katanya akhir pekan kemarin.

Bahkan, korban sempat diberi buku nikah oleh LA, lantaran LA yang diduga palsu, yang digunakan untuk meminjam uang. Awalnya, keluarganya mengingatkan dirinya jika LA itu hanya modus saja, namun ia tak curiga lantaran sudah hidup layaknya suami istri dan tinggal sudah lama dengan korban.

Namun, ia tak menyangka jika LA akan membuatnya menderita, selain hartanya ludes digadaikan oleh LA, kini lelaki tersebut menghilang tak tahu rimbanya. Bahkan, tak pernah ada kabar sekalipun. Handphonenya juga tak aktif hingga kini.

“Ia lari dari tanggungjawabnya meninggalkan saya ke Jayapura,” katanya.

Terakhir, korban bertemu suami sirinya tersebut pada 2015 saat kesepakatan untuk pembayaran hutang korban tersebut di Polda Papua. Saat itu, LA minta waktu 1 tahun terhitung 7 Oktober 2015 – 7 September 2016 untuk melunasi hutangnya itu, hingga ia membuat laporan ke Polda Papua.

“Saya lapor ke Polda Papua, saya diminta ke Mabes Polri karena kejadiannya di Jakarta. Akhirnya, saya lapor ke Mabes Polri, namun dilimpahkan lagi ke Polda Papua, karena beliau tugas disini menjadi dosen IPDN,” katanya.

LA sempat dipanggil ke Polda Papua dan membuat surat pernyataan untuk membayar. “Kita sudah secara kekeluargaan, bahkan pihak Polda sudah memanggil istrinya di sini. Tapi, tidak direspon LA, katanya sudah tidak tinggal dengan istrinya dan istrinya lepas tangan,” jelasnya.

Kesepakatan bersama yang dibuat di Polda Papua, diingkari oleh LA, yang mestinya jatuh tempo untuk melunasi hutangnya pada Nopember 2015, LA sudah menghilang sampai sekarang.

“Pihak Polda membantu saya agar selesai secara kekeluargaan, tapi beliau sekarang lari tidak tahu kemana?,” jelasnya.

Korban berharap LA bisa menemuinya, meskipun belum mempunya dana untuk melunasi hutangnya itu.

“Keluarlah dulu dari sarangnya untuk menyelesaikan ini. Kalaupun minta waktu, saya tidak masalah yang penting ada bahasa dari dia, karena kasusnya sudah 6 tahun,” katanya.

Korban mengaku tidak menuntut lain, baik mobil, perhiasan atau uang yang dipinjam LA, tetapi hanya menuntut LA mengembalikan rumah tempat tinggal bersama anak-anaknya.

“Rumah digadaikan LA dan sekarang sudah dilelang bank. Saya terpaksa menumpang ke anak saya. Saya tidak nuntut lain, tapi hanya rumah saja dikembalikan,” katanya tak bisa menahan isak tangisnya.

Ia berharap Polda Papua membantu dirinya agar pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. “Kami harap polisi dapat menetapkan LA sebagai DPO,” imbuhnya.

  Ketua Wadah Generasi Anak Bangsa (WGAB), Harry Affar berupaya membantu korban untuk menghadapi masalah ini, namun hingga kini masih nihil.

  “Kalau memang LA tidak kembalikan rumah ibu, digantikan saja dengan rumah yang dimiliki LA di Jayapura, biar ibu tenang,” imbuhnya.

Dibaca 97 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.