Deman Batu Cycloop

  |  August 20, 2017

Deman Batu Cycloop

Opini Written by  Rabu, 29 April 2015 11:18 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Oleh: Yaan Yoku

Beberapa waktu lalu ketika pulang kantor saya dikagetkan dengan suatu situasi yang menarik di rumah. Anak bungsu saya namanya Juan usianya 6 tahun datang dan melapor, bapa tadi pulang sekolah saya ada ke kali dan ada kumpul batu banyak sambil menunjukkan batu-batu yang telah dikumpulnya, saya kaget lalu tanya batu itu untuk apa, jawab dia ini untuk batu akik, bingung saya mendengar jawabannya, lalu balik bertanya lagi darimana ko tau batu akik. Dengan gamblangnya dia menceritakan bahwa di depan sekolahnya (TK Ria Pembangunan di jalan ke Bandara Sentani) banyak orang jual batu akik. Karena penasaran keesokan paginya saya mengantar dia ke sekolah dan memang apa yang telah disampaikannya benar. Banyak orang menjual batu akik disepanjang jalan menuju bandara dengan nama “Batu Cycloop”. Tidak hanya di jalan bandara, di beberapa titik di kota sentani juga orang ramai menjual Batu Cycloop.
Tidak ada informasi yang pasti, siapa yang memulai sehingga batu cycloop ini membooming di wilayah Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, tapi Fenomena Batu Cycloop ini harus menjadi perhatian yang serius bagi kita semua, karena akan membawa dampak sosial ekonomi yang luar biasa. Semua orang siapa saja sekarang berlomba-lomba ke hutan dan ke kali untuk mencari batu cycloop. Dampak positifnya ada peluang usaha yang baru bagi masyarakat dalam meningkatkan ekonomi keluarga, dampak negatifnya adalah rusaknya lingkungan karena pengambilan batu yang sembarangan merusak sturuktur tanah dan ekosistim lingkungan sehingga mengakibatkan daya dukung lingkungan menurun. Padahal saat ini isu tentang pelestarian lingkungan semakin gencar dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat dan juga oleh Pemerintah.
Karena itu, fenomena Batu Cycloop ini harus menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura melalui SKPD Tehnis yang memiliki tugas pokok terkait dengan dampak sosial dan ekonomi dari situasi ini. Banyak orang mengeluh karena pasar dadakan batu cycloop tersebut mengakibatkan macet di jalan bandara mengganggu kepentingan umum, anak-anak TK yang tidak tahu menahu tentang batu akik merenget meminta orang tuanya untuk membelikan batu akik kondisi ini sangat menyusahkan orang tua. Karena itu Pemerintah Daerah harus menertibkan hal ini agar tidak menjadi penyebab terjadinya masalah sosial.
Dari berbagai informasi yang saya dapatkan terkait batu akik, ada sepuluh jenis batu akik yang sangat populer di Indonesia dan di cari oleh banyak orang, seperti Batu Bacan, Batu Cincin Safir, Batu Cincin Zamrud, Batu Cincin Ruby, Batu Topaz, Batu Opal (Kalimaya), Batu Sungai Dareh, Batu Giok, Batu Kecubung dan Batu Lavender serta batu akik lainnya . Semua jenis batu akik ini memiliki kelebihannya sendiri-sendiri dan dengan harga yang berwariasi dari ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah, dari sekian banyak batu akik tersebut, yang number one dan paling populer adalah Batu Bacan. Batu ini berasal dari daerah Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara tepatnya di pulau Bacan. Dan jenis yang paling di cari adalah Bacan Doko berwarna hijau gelap dan Bacan Palamea berwarna hijau kebiruan.
Dari informasi tersebut, fenomena terbaru batu akik saat ini adalah batu akik dari Garut yang dikenal dengan Batu Pancawarna. Batu akik ini menjadi terkenal karena diberikan sebagai souvenir bagi seluruh peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung (24/4). Padahal batu ini harganya tidak seberapa di Garut, dengan uang Rp. 25.000 kita bisa mendapatkan batu Pancawarna. Harganya berubah dan popularitasnya naik karena Batu Pancawarna dijadikan sebagai ole-ole atau souvenir bagi delegasi berbagai negara yang mengikuti KAA di Bandung. Belajar dari pengalaman ini, keterlibatan Pemerintah Daerah sangat penting dalam meningkatkan status Batu Cycloop agar lebih bernilai dan berharga. Karena dari seorang pedagang Batu Akik di Sentani saya mendapatkan informasi bahwa Batu Cycloop kualitasnya jauh lebih baik dari Batu Pancawarna. Hari ini kita tidak mengetahui dengan jelas kualitas Batu Cycloop itu sendiri sehingga orang menjualnya sembarangan di pinggir jalan bagaikan sayur kangkung (karena batu juga pake di siram dengan air pada waktu tertentu kayak sayur) dengan standar dan indikator yang tidak jelas dalam penentuan harga jual dan kualitas batu tersebut. Karena itu, Dinas Pertambangan harus membantu melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kualitas Batu Cycloop dalam rangka meningkatkan popularitas serta harga jualnya. Siapa tau melalui uji laboratorium serta uji kelayakan lainnya bisa menempatkan posisi Batu Cycloop lebih tinggi dari Batu Bacan atau nomor dua setelah Batu Bacan. Selain hal tersebut, Pemerintah Daerah harus membuat Perda untuk melindungi Batu Cycloop agar tidak di eksploirasi dan dieksploitasi secara sembarang dan berlebihan.
Mengapa ini penting, karena fenomena Batu Cycloop hari ini adalah berkat bagi masyarakat Papua khususnya Jayapura. Hanya saja kalau tidak diatur dengan baik maka akan menjadi musibah bagi masyarakat dari sisi lingkungan dan hanya menguntungkan orang lain  sedangkan masyarakat Jayapura tidak mendapatkan apa-apa dari sisi ekonomi . Selain hal tersebut, Batu Cycloop sangat bernilai bagi masyarakat Sentani dari sisi adat, sebab ada jenis tertentu yang digunakan sebagai Mas Kawin, dan batu ini hanya berada di tempat-tempat tertentu dan memiliki nilai yang sakral. Dengan fenomena Batu Cycloop ini yang membuat semua orang berlomba-lomba masuk hutan menyusuri sungai (kali), dikuatirkan akan merusak tatanan nilai-nilai adat, sehingga menurunkan nilai-nilai adat yang selama ini terpelihara dan terjaga. Karena itu, Pemerintah Daerah dan seluruh komponen adat harus dapat menyimak dan mensikapi fenomena ini dengan baik dalam rangka menjaga kearifan lokal, sehingga dapat menyediakan payung sebelum hujan agar tak ada lagi sesal dikemudian hari.

Penulis adalah PNS pada DISORDA Provinsi Papua.

Dibaca 894 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.