Nilai Tukar Petani Papua Mengalami Kenaikan

  |  August 20, 2017

Nilai Tukar Petani Papua Mengalami Kenaikan

Ekonomi & Bisnis Written by  Selasa, 03 Mei 2016 14:45 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Kepala BPS Provinsi Papua, Johanes de Britto Priyono

 

JAYAPURA - Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua pada bulan April 2016, Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami kenaikan 0,01 persen menjadi 96,14 persen bila dibandingkan NTP bulan sebelumnya sebesar 96,13 persen.

Kepala BPS Provinsi Papua, Johanes de Britto Priyono mengemukakan, kenaikan tersebut terjadi akibat indeks harga diterima petani mengalami kenaikan 0,23 persen, sementara indeks harga dibayar petani mengalami kenaikan hanya 0,22 persen.
"Perkembangan NTP Papua bulan April 2026 dengan bulan sebelumnya terjadi di tiga subsektor mengalami penurunan indeks NTP seperti tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat dan perikanan masing-masing turun", kata Johanes di Kantor BPS Provinsi Papua, Senin (2/5/2016).
Lanjutnya, bila dibandingkan dari tanaman holtikultura dan peternakan, NTP Papua  mengalami kanaikan indeks masing-masing sebesar 0,16 persen dan 0,49 persen sebesar 0,25 persen, 0,18 persen dan 0,62 persen.
Menurutnya, kenaikan NTP disebabkan dari lima subsektor NTM dibawah 100, yaitu tanaman pangan 85,70 persen, peternakan 99,68 persen, sementara diatas NTP diatas 100, yaitu holtikultura 102,26 persen, perkebunan rakyat 103,73 persen dan perikanan tercatat 104,34 persen.
Disebutkan, dari 33 provinsi yang dihitung NTP nya ada 21 provinsi tercatat mengalami kenaikan NTP dan 12 provinsi mengalami penurunan NTP, satu diantaranya di Papua dengan kenaikan NTP terendah sebesar 0,01 persen.
Selain NTP, diakuinya, inflasi dan deflasi juga juga disumbang pedesaan di Papua pada April 2016, tercatat mengalami inflasi sebesar 0,34 perse dari rumah tangga berupa bahan makanan.
"NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif, semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani", pungkasnya. (Ramah)

Dibaca 383 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.