Pasific Pos.com
Papua Barat

Hakim Tunda Sidang, Keluarga Korban ‘Ribut’

Manokwari, TP – Pengadilan Negeri (PN) Manokwari kembali menggelar sidang kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia dunia, di Jl. Arfai II atau dekat Toko Bangunan Alfa Center, Manokwari, Selasa (13/3) sekitar pukul 19.15 WIT, dengan terdakwa Armius Ayok alias Armi, Kamis (5/7).

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Aris S. Harsono, SH,MH beragendakan pemeriksaan saksi. Dimana Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Manokwari, Dewi Monika Pepuho, SH menghadirkan 4 orang saksi.

Pantauan Tabura Pos, saksi-saksi tersebut telah hadir dari pagi hari di PN Manokwari, namun karena waktu sidangnya sidang hari. Kemudian, 4 saksi diantarnya merupakan korban luka berat dari laka lantas tersebut.

Sehingga, mereka belum bisa berjalan, dan tidak bisa duduk. Karena menunggu waktu sidangnya lama, keempat saksi tersebut pulang dan meminta mereka diwakilkan oleh orang tuanya utnuk memberikan keterangan di persidangan.

JPU memanggil para saksi untuk hadir di ruang persidangan, ketidak saksi hadir dalam ruang sidang, hakim mengecek kembali, ternyata dari 4 saksi yang dihadirkan diwakilkan orang tua saksi.

Hakim menanyakan kembali ke JPU, dan ternyata benar, saksi tidak hadir dan meminta perwakilan. Akhirnya, hakim memutuskan untuk menutup sidang dan akan berlangsung minggu depan mendatang.

Tidak terima hakim menutup sidang, beberapa orang tua keluarga korban mulai ribut didalam ruang sidang dan meminta hakim tetap melanjutkan sidang dengan meminta keterangan dari perwakilan saksi yang hadir di persidangan.

“Kami tunggu sidang mulai dari pagi sampai siang ini juga tidak mulai-mulai, sekarang sidang sudah mulai tapi kenapa di tunda-tunda lagi. Kamu bisa minta keterangan dari kami orang tua korban, anak kami korban dan tidak bisa duduk, maka kami datang untuk mengantikan mereka berikan keterangan,” kata salah satu ibu dengan nada keras.

Tindak tak perpujipun sontak menyedot perhatian para pengunjung di PN Manokwari. Setelah beberapa, keluarga korban pulang dan meminta agar perkara tersebut dijabut dan diminta penyelesaian secara adat.

JPU Kejari Manokwari, Dewi M. Pepuho, SH yang ditemui Tabura Pos usai persidangan mengatakan, saksi yang dipanggil merupakan korban cederah berat akibat kasus laka lantas lantas ini, sehingga didampingi keluarnya.

Namun, lanjut dia, ada agenda sidang lain yang disidangkan oleh JPU, sehingga waktunya molor. Karena saksi-kaksi yang dipanggil masih cederah berat mereka pulang.

“Saya tidak tahu kalau mereka sudah pulang dan diminta untuk diwakilkan oleh orang tuanya. Nah, sebelum kita sidang saya sudah panggil saksi Hendra untuk cek kembali. Ternyat itu orang tuanya, saya tanya apakah ini Bapak Hendra, orang tuanya mengaku ia, padahal yang saya maksud Hendra bukan bapaknya Hendra. Ini karena miss komunikasi,”  terang  JPU.

Lanjut dia, dalam kasus ini pihaknya menghadirkan 9 saksi tetapi mereka tidak datang. Dimana, saksi istri korban sudah dipanggil sempat hadir karena ada sidang lainnya. Mungkin saksi istri korban ada urusan lainnya akhirnya saksi tersebut pulang, saksi lainnya diwakilkan.

Tentang perwakilan saksi, jelas JPU, saksi yang bisa memberikan keterangan adalah saksi yang sudah diperiksa oleh penyidik didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). “Ya mungin karena keluarga awam terhadap proses persidangan sehingga mereka pikir saksi bisa diwakilkan,” kata Pepuho kepada Tabura Pos di PN Manokwari, kemarin.

Dikatanannya, korban sebenarnya ada 5 orang, dimana 1 korban meninggal dunia, 4 korban lainnya masih hidup tetapi dalam keadaan cederah berat.

Disinggung terkait upaya kedepan menghadirkan saksi, jelas JPU pihaknya akan lakukan upaya untuk menghadirkan saksi-saksi, 3 kali pemanggilan kalau saksi tidak hadir lagi, maka pihaknya akan meminta keterangan dari dokter terkiat kondisi kesehatan saksi.

“Atas dasar surat keterangan inilah baru kita membacakan keterangan saksi pada BAP di persidangan,” ujar Pepuho.

Disinggung upaya penyelesaian secara kekeluargaan, terang JPU, memang ada upaya penyelesaian yang dilakukan keluarga korban di tingkat kepolisian.

Dimana, keluarga pelaku sudah memantu kelima korban laka lantas, “Kalau saya tidak salah 4 korban cederah dibantu keluarga pelaku dengan diberikan masing-masing Rp. 25 juta.

Sementara, tuntutan dari Keluarga korban masing-masing Rp. 100 juta, tetapi karena tidak ada kesepakatan dari permintaan korban akirnya dilanjutkan ke persidangan,” tandas Pepuho. 

Sebelumnya, terdakwa Amius Ayok didakwa JPU dengan ancaman pidana dalam Pasal 311 Ayat 5 Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. [FSM]