Menu

Line 1

Custom Search

Madu Lebah Produk Andalan Kabupaten Jayawijaya

  • Ditulis oleh Super User
Penilaian: Rating Star BlankRating Star BlankRating Star BlankRating Star BlankRating Star Blank / 0
TerburukTerbaik 

Peternak Lebah

WAMENA,- Keinginan memperkenalkan madu dari pegunungan tengah Papua ke dunia luar, membuat Elia Pawika tekun menjalankan usaha produksi lebah madu miliknya yang kini terkenal dengan kekentalan, warna dan manisnya.
Ia mengaku,  ternak lebah madu yang dimilikinya seluas 200 x 50 meter dan dikelola oleh enam orang karyawan. Dan setiap tahun melakukan panen sebanyak dua kali,  yaitu pada bulan Juni hingga Agustus dan September hingga awal Oktober.8


 “Kami ini ada 25 kelompok, dan mempunyai lahan ternak lebah madu setiap kelompok. Ke-25 kelompok ini kami berinama Pilamo Mandiri,” kata Elia Pawika  saat berkunjung ke lokasi ternak lebah madunya di Distrik Walagama, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (11/5/2017).
Ia beberkan proses madu yang dihasilkan, awalnya lebah madu yang diternak berjenis Apis Limivera menyerap nektar dari bunga dan lebah ini membawa nectar itu ke rumah lebah madu yang telah disiapkan.
 “Lebah madu ini akan mengambil nectar di pohon Wib, Monika dan Weke yang sudah kami siapkan dalam lahan kami. Ada juga beberapa bulan lalu lebah madu lokal kami, tapi sekarang lebah madu lokal itu pindah tak tahu kemana, memang kalau lebah madu lokal suka pindah-pindah,” ucapnya.
Disaat musim panen atau setidaknya rumah lebah madu miliknya sekitar 75-80-an rumah lebah telah penuh, ia bersama rekan-rekannya mengumpulkan madu tersebut, yang selanjutnya dikemas dan diberi label dan telah terdaftar dengan nomor POP P-IRT NO.KES.RI 109911201024. “Madu ini kami berinama Madu Asli Pugima (MAP),” kata pria brusia 43 tahun itu.
Industri rumah tangga melalui kelompok Pilamo ini satu kelompok yang telah berdiri sejak tahun 2009 lalu, dan juga ditahun 2016 kelompok ini digandeng Bank Indonesia perwakilan Provinsi Papua sebagai binaan. Sayangnya, kelompok tersebut masih kurang dalam managemen keuangan serta marketing.
 “Kesulitan yang kami hadapi sekarang, adalah setelah panen. produk hanya kami jual di sekitaran Wamena, dengan menitip di kios-kios yang ada serta koperasi masyarakat, yang hasilnya sudah tentu ada pembangian dengan penjual,” kata Elia.
Kelompok petani madu yang berada di Kampung Pugima ini, tak patah arang dengan hambatan itu. Pihaknya terus berusaha untuk memajukan usaha yang sebagian besar dikerjakan keluarga besarnya.
 “Madu dari kami biasa kami jual yang ukuran boto sirup ABC Rp 250 ribu, kalau yang ukuran botol kecap sedang kami jual Rp 150 perbotol,” tutur pria yang lahir besar di Wamena, Jayawijaya.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua Joko Supratikto mengaku  pihaknya mendampingi sejak tahun 2016, awalnya berikan bantuan untuk memperbesar hasil produksi kelompok Pilome Mandiri itu dengan berikan 64 rumah lebah.
 “Kami berikan rumah lebah dan juga bibitnya yang dikelola bukan untuk perorangan, tetapi kelompok. Kami coba juga dari sisi pemasarannya,” kata Joko.
Untuk pemasaran ini, dinilai Joko masih perlu bimbingan secara berkala. Sementara ini, pihaknya mengikutsertakan kelompok tani madu pada even-even pameran, agar lebih dikenal kalangan masyakarat lokal maupun luar Papua. “Kalau tak salah sudah tiga kali kami libatkan mereka ikut pameran, di Kota Jayapura, Surabaya dan Jakarta,” tuturnya.
Pihaknya berkeinginan untuk memperkenalkan produksi madu dari kelompok Pilamo Mandiri ini ke perusahan-perusahaan kosmetik di luar Papua. Namun, permasalahan utama adalah lokasi produksi madu ini ada di wilayah yang cukup besar pembiayaan transportasinya.
 “Pengangkutan hasil produksi ini butuhkan cost yang besar, jadi mungkin diangkut dari Wamena tak perlu dalam kemasan dulu, diangkut dalam jerigen besar dan nanti kalau sudah di Jayapura baru dikemas,” kata Joko.
Kenapa tak bekerjasama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Kota Jayapura, dengan bekerjasama soal pembuatan kemasan madu? dikatakannya bisa juga dan itu adalah ide menarik, namun pihaknya belum melakukan survey terkait kemasan yang nantinya dibuat oleh pelajar-pelajar SMK.
 “Itu nanti kami coba lakukan dan memang harus dicek dulu. Produk dari Usaha Mikro Kecil (UMK) ini berdasarkan kajian dari kami dimana madu ini salah satu produk unggulan Wamena selain kopi,” dikatakan Joko.
Ditambahkan, pelaku UMK itu disamping masalah pemasaran mereka juga kesulitan akses dalam pembiayaan, karena pelaku mikro tak memiliki catatan keuangan yang memadai agar bank dapat memberikan modal dengan jumlah sesuai catatan keuangan.
 “Kami tetap berikan pembinaan seperti pelatihan kepada rekanan binaan kami selama 1-3 tahun. Tapi setelah itu tetap kami memberikan bantuan dan membina mereka. Juga bagaimana kami dapat melinkan mereka kepada bank dalam  segi modal usaha,” ucapnya.
Sekedar diketahui, Bank Indonesia perwakilan Papua sendiri memiliki binaan UMK masing-masing satu produksi batik Sentani dan budidaya ikan mujair di Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura industry kreatif kelompok usaha kerajinan juga binaan nelayan tangkap , di Keerom binaan petani bawang merah dan ternak sapi.
Untuk di Kabupaten Mappi ada binaan produksi Kopi, Nabire binaan produksi Padi. Kesemuanya itu telah dikenalkan oleh Bank Indonesia tentang aplikasi bernama SIAPIK (Aplikasi Pencatatan Transaksi Keuangan) agar mudah mengatur keuangan. (yadi)

  • No comments found

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
Info for bonus Review bet365 here.