Pasific Pos.com
Papua Barat

Dua Pelaku Pembunuhan Pemilik Coto Makassar Diancam Hukuman Mati

Manokwari, TP – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Manokwari yang diketuai Sonny A.B. Laoemoery, SH melanjutkan sidang atas terdakwa Yuliana Rasyid dan Achmad Yani yang diduga pelaku pembunuhan, Almarhum, Abdul Hakim Hafids pemilik warung Coto Makassar di Jl. Pasir, Kompleks Pasar Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, 9 April 2017 lalu.

Sidang lanjutan beragendakan pembacaan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Manokwari, Ramli Amana, SH dan rekannya terhadap terdakwa Yuliana Rasyid dan Achmad Yani dihadapan majelis hakim, dan penasehat hukum kedua terdakwa.

Dalam tuntutan itu, JPU menegaskan, ada beberapa hal yang memberatkan kedua terdakwa dan menjadi dasar dakwaan, sehingga JPU mendakwa kedua terdakwa dengan Primer Pasal 340 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUH Pidana dengan subsider Pasal 338 Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUH Pidana dengan ancaman hukuman.

Sebut Amana, ancaman hukuman mati, atau hukuman seumur hidup, atau untuk jangka waktu tertentu yaitu 20 tahun.

Hal-hal yang memberatkan keterdakwa Yuliana Rasyid yakni, sesuai dengan keterangan saksi dan fakta-fakta persidangan terdakwa Yuliana Rasyid terbukti sebagai otak pembunuhan dari suaminya.

Sementara, lanjut JPU, terdakwa Achmad Yani dari fakta-fakta persidangan dan keterangan saksi terbukti sebagai sebagai eksekutor pembunuhan, perbuatan terdakwa dilakukan saat korban tertidur, dan perbuatan terdakwa sangatlah sadis.

Kemudian, kata JPU, perbuatan terdakwa telah meninggalkan duka yang mendalam terhadap keluharga korban, dan disisi lain perbuatan terdakwa sangat meresahkan masyarakat.

Usai mendengarkan JPU membacakan tuntutan tersebut, hakim memberikan waktu kepada terdakwa Yuliana Rasyid dan Achmat Yani untuk melakukan konsultasi dengan penasehat hukumnya.

Akhirnya, ketua majelis hakim menutup persidangan dan akan kembali dilanjutkan dengan agenda pembelahan, baik pembelahan secara pribadi terdakwa Yuliana Rasyid dan Achmad Yani maupun pembelahan dari penasehat hukum kedua terdakwa, Senin (12/3).

JPU Kejari Manokwari, Ramli Amana, SH yang ditemui para wartawan usai persidangan mengatakan, pihaknya mengajukan hukuman mati terhadap kedua terdakwa tidak serta merta seperti itu.

“Tapi kami memperhatikan fakta-fakta yang telah terungkap dalam persidangan dan dihubungkan dengan bentuk perbuatan yang dilakukan kedua terdakwa,” kata Amana kepada para wartawan di PN Manokwari, kemarin.

Menurut JPU, banyak hal-hal yang memberatkan kedua terdakwa diantaranya korban adalah suami dari pelaku, dan pada saat kejadian pun korban dalam keadaan tidur.

Kemudian, tambah dia, perbuatan yang paling fatal adalah perbuatan kedua terdakwa dilandasi dengan hubungan perselingkuan. “Ini yang menjadi dasar pertimbangan kami untuk mengajukan ancaman hukuman mati kepada kedua terdakwa,” terang Amana.

Ungkap Amana, terdakwa Yuliana Rasyid sampai hari saat ini belum ada perdamaian dengan keluharga korban dan sampai dengan tuntutan dibacakan tidak ada maaf dari terdakwa.

“Sehingga rencana tuntutan (rentut) yang kami acukan secara berjenjang mulai dari Kejaksaan Negeri ke Kejaksaan Tinggi kemudian diteruskan ke Kejaksaan Agung.

Apa yang kami kemukakan dalam tuntutan itu sudah kami koordinasikan ke pusat dan hukuman mati yang kami tuntut merupakan hasil koordinasi kami dengan Kejagung,” ucapnya.

JPU menegaskan, dalam surat tuntutan sesuai dengan dakwaan berbentuk subsider dan dibuktikan dengan dakwaan yang paling berat yaitu dakwaan melanggara Pasal 340 dalam tuntutun ternyata Pasal 340 Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 sudah terbukti sebagaimana fakta-fakta yang disertai dan didukung keterangan saksi dalam persidangan, tandasnya.

Sementara Penasehat Hukum terdakwa Yuliana Rasyid, Simaron Auparay mengatakan, kleinnya telah melakukan konsultasi dan pihaknya akan segera membantu kleinnya untuk membuat pembelahan pada sidang berikutnya.

Senada, Penasehat Hukum terdakwa Achmat Yani, Achmat J. SH,MH mengatakan, pihaknya akan tetap obtimis bahwa hukuman mati bukan akhir tetapi pihaknya akan tetap berupaya untuk membela kleinnya.

Keluharga Almarhum, Abdul Hakim Hafids, Hajad Ros yang ditemui Tabura Pos usai persidangan menegaskan, ancaman hukuman yang diberikan kepada kedua terdakwa harus setimpal dengan perbuatan mereka.

“Keluharga kami dari Makassar meminta agar kedua terdakwa diberikan hukuman mati. Perbuatannya sangat sadis.

Seandainya kalau saya punya kakak peminum atau pemain perempuan, Ya mungkin kita keluharga memaklumi, tapi, kakak saya tidak membuat hal-hal yang tidak baik kepada terdakwa.

Kalau saya semestinya terdakwa Yuliana Rasyid yang dibunuh karena dia yang selingku dari kakak saya. Keluharga kami meminta hukuman mati,” tegasnya.

Ia berharap, penegak hukum dapat memberikan hukuma yang setimpal kepada kedua terdakwa sehingga menjadi efak jera dan dikeludian hari tidak ada lagi orang yang melakukan hal yang sama.

“Kalau kami hukuman ringan nanti ada orang yang melakukan pembunuhan lagi, kami harap ada putusan yang adil supaya menjadi efek jera baik pelaku dan tidak melakukan hal yang sama dan meresakkan masyarakat,” tandasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, rentut kedua terdakwa ini telah ditunggu kurang lebih 2 minggu. Dikarenakan pengendali tuntutan tertinggi ada di Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk perkaran yang menarik perhatian dan meresakan masyarakat.

Sehingga, Kejari Manokwari tidak bisa mengambil keputusan sendiri tetapi harus melaporkan ke pimpinan secara, baik dari Kejaksaan Negeri, Ke Kejaksaan Tinggi dan dilanjutkan kepada Kejaksaan Agung. [FSM]