Pasific Pos.com
Papua Barat

Ditreskrimsus: Kasus Penebangan Kayu Ilegal di Bintuni Naik Turun

Manokwari, TP – Penyidik Ditreskrimsus Polda Papua Barat berencana kembali memeriksa saksi ahli terkait dengan perkara tindak pidana penebangan kayu illegal yang dilakukan P. NKA, di kilometer 9, Kampung Wesiri, Kabupaten Teluk Bintuni.

Sebab, diungkapkan Dirreskrimsus Polda Papua Barat, Kombes Pol. Budi Santosa, penyidik kembali menemukan bukti baru adanya hubungan kerjasama antara PT. KCK selaku industry primer dengan PT. NKA milik HA selaku pelaksana pekerjaan jalan.

“jadi saya tidak bisa berandai-andi terkait siapa yang harus menjadi tersangka, karena kasus ini masih naik turun dengan ditemukannya bukti baru,” ucap Ditreskrimsus kepada para wartawan di sekitar area Polda Papua Barat, Senin (9/7).

Bahkan, dia menerangkan, ada bukti surat-menyurat anatara APIP Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni dengan Perusahaan yang bersangkutan.

Dirinya mengungkapkan, lokasi penebangan hutan yang dilakuakn PT. NKA ternyata masih dalam proses konversi, dengan tujuan bisa dipindahkan untuk areal lain.

“Jadi memang ada dua persoalan, satunya antara paket pekerjaan jalan dan penebangan kayu yang kita duga tidak sesuai lokasinya, karena izinnya untuk tebang di lokasi A, tetapi justru dilakukan penebangan di blok B, ini yang perlu kita cek,” ujarnya.

Menurut Ditreskrimsus, kalau pelanggaran yang dilakukan PT.NKA ada, sambung dia, bagian sisi inilah yang pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni selaku pemberi Izin.

Dalam pemberitaan Tabura Pos sebelumnya, kasus ini terbongkar berdasarkan adanya laporan masyarakat setempat yang menyebutkan jika ada kayu tidak jelas di kilometer 9, Kampung Wesiri, sebagai lokasi industri primer PT. KCK.

Setelah melakukan pengecekan ke kilometer 9, Penyidik tipiter Ditreskrimsus Polda Papua Barat mendapati kayu log, tetapi juga terdapat kayu tebangan baru atau frestkat yang didatangkan dari kilometer 14 oleh PT. NKA milik HA, yang saat itu sedang melakukan pekerjaan jalan.

Setelah melakukan pengembangan, penyidik pun menemukan sejumlah hasil penebangan kayu secara illegal, diantaranya 92 palet kayu olahan panjang campuran, 132 palet kayu olahan panjang 14 meter, 17 batang kayu log panjang 4 meter, 3 batang kayu log panjang 3 meter dan 3 batang kayu log panjang 2 meter.

Selain itu, terdapat juga barang bukti (BB) berupa 5 unit Dump Truck, 1 unit Truck dan 1 unit mesin senso yang telah diamankan ke Mapolda Papua Barat, serta 2 unit eksavator merek caterpillar jenis 320d, yang masih di police line di TKP.[BOM]