Pasific Pos.com
Papua Barat

Dirreskrimum : Kris Tanjung Cabut LP Pencemaran Nama Baik Wartawan

PWI Tidak Mengetahui Ada Proses Damai Antara Pelapor dan Terlapor” Kata Bustam

 

Manokwari, TP – Kasus pencemaran nama baik profesi wartawan dan ujaran kebencian pada tanggal 15 Maret 2018, tempat media sosial Facebook, dengan terlapor pemilik akun Facebook atas nama Yohanis Krey, pemilik akun Facebook atas nama Widhiantara DTT, dan pemilik akun Facebook atas nama Kurube Welem WT, secara resmi akhirnya ditutup.

Pasalnya, pelapor atas nama Kris Tanjung yang juga merupakan pimpinan salah satu media on-line  di Manokwari, Papua Barat, telah mencabut Laporan Polisi (LP) atas pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap profesi wartawan, yang ditangani Dirreskrimum Polda Papua Barat.

Hal ini diungkapkan, Dirreskrimum Polda Papua Barat, Kombes Pol. Bonar Sitinjak kepada para wartawan usai mengikuti perlombaan menembak di Mako Brimob Polda Papua Barat, Sabtu (7/7).

“Yang melapor atas nama Kris Tanjung mencabut sendiri LP-nya secara resmi,” ungkap Dirreskrimum.

Lanjut dia, sebelum mencabut LP, pelapor dan terlapor terlebih dahulu sudah melakukan penyelesaian secara kekeluargaan atas kasus tersebut.

Dirinya pun mengungkapkan, pihak penyidik tidak menghubungi dan meminta yang bersangkutan mencabut LP, melainkan keduanya mendatangi Polda Papua Barat dan membuat pernyataan bahwa sudah berdamai.

Kemudian, menurut Dirreskrimum, dilakukan penyelesaikan secara kekeluargaan selanjutnya dilakukan pencabutan LP oleh pelapor atas nama Kris Tanjung.

Terkait hal itu, Kris Tanjung yang dihubungi Tabura Pos via handphone, semalam, tidak dapat menjelaskan lebih detail alasannya mencabut LP.

“Saya tidak bisa jelaskan tanya saja Ketua PWI, saya off the recort, tidak usah berkomentar tanya Ketua PWI toh,” ucap Kris Tanjung.

Sementara itu, Ketua PWI Papua Barat, Bustam mengatakan, pada prinsipnya PWI mendampingi dan siap mengawal kasus ini sampai pada putusan pengadilan, namun karena kasus ini berahkir dengan perdamaian PWI tidak bisa apa-apa.

Padahal, dituturkannya, waktu membuta LP, kasus itu dilaporkan atas nama wartawan di Manokwari karena dalam proses pelaporan semua wartawan perwakilan media cetak, elektronick ikut mendampingi Kris Tanjung.

“Itu kan kasus pelecehan terhadap wartawan, jadi kita ikut mendampingi Kris Tanjung untuk membuar LP di SPKT Polda Papua Barat, jadi saya pikir laporan kasus itu atas nama wartawan,” ujar Bustam kepada Tabura Pos via handphone, semalam.

Lanjut Bustam, dirinya juga menyayangkan sikap Kris Tanjung karena sudah berkomunikasi dengan Dewan Pers di Pusat terkait kasus ini, meskipun yang disampaikan Dewan Pers tidak masalah jika kasus ini diselesaikan secara baik.

Dirinya juga mengaku, tidak mengetahui atau diberitahukan oleh Kris Tanjung soal penyelesaian yang sudah dilakukan secara kekeluargaan.

“Kalau deal-deal atau penyelesaian itu kita tidak tahu bentuknya seperti apa, tapi kalau memang ada deal-deal dengan materi, dengan jelas saya tegaskan tidak dibenarkan, kalau pun benar , itu masalah baru,” ucap dia.

Diungkapkan Bustam, selama ini senyap, bahkan dalam penyelesaian kasus ini PWI atau dirinya tidak pernah dilibatkan sama sekali, padahal dalam beberapa pemberitaan oleh wartawan kasus ini berlanjut dan sudah ditetapkan tersangka.

“Pengurus PWI juga pernah ke Polda Papua Barat untuk mempertanyakan kasus ini, informasinya sudah pemanggilan saksi dan tersangka,” tandas dia.

Seperti yangh diberitakan Tabura Pos sebelumnya, sejumlah wartawan media cetak dan elektronik di Manokwari, Papua Barat, berbondong-bondong mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Papua Barat, untuk melaporkan tindak pidana pencemaran nama baik profesi wartawan dan ujaran kebencian yang dilakukan oknum anggota Polres Manokwari dan oknum petugas Bandara Rendani Manokwari, Jumat (16/3).

Langkah ini diambil organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Barat, setelah mempelajari dan menganalisa salah satu akun Facebook atas nama Yohanis Krey yang diposting pada Kamis (15/3) sekitar pukul 20.01 WIT, dimana dalam postingan itu termuat dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik profesi wartawan dan ujaran kebencian

Tindakan tidak beretika tersebut dimulai saat akun Facebook atas nama Yohanis Krey, memposting status dan gambar berita pada salah satu media cetak di Papua Barat yang berjudul ‘Dihalangi Meliput, Jurnalis Nyaris Adu Jotos Dengan Petugas Bandara’.

Postingan itu sontak mengundang perhatian publik, yang kemudian dibanjiri dengan 123 kali komentar yang termuat berbagai kata cacian dan makian terhadap profesi wartawan, 120 tanda like, dan 10 kali di bagikan ke pemilik akun Facebook yang lain.

Dari 123 komentar tersebut, akun Facebook atas nama Widhiantara DTT atau nama aslinya Brigpol Inengah D Widhiantara, menuliskan ‘Dekat dengan pejabat Papua Barat bukan berarti bisa buat berita seenaknya, kerena berita yang kalian dapat dari kejadian2 yang ada di seputaran kami. Kalau mau adu jotos dengan melepas pakaian dinas semua punya nyali, FuckOff‘.

Bukan hanya itu, anggota Polres Manokwari ini juga berkomentar dengan cara mengeluarkan kata-kata sangat tidak pantas dan mencerminkan dirinya sebagai anggota Polri yang harusnya mengayom dan melindungi masyarakat, dengan menyebutkan ‘wartawan cukimay’.

Selain itu, ada juga postingan dari akun Facebook atas nama Kurube Welem WT, salah satu oknum petugas Bandara Rendani Manokwari, yang menjurus kepada penghinaan profesi wartawan, dimana dalam postingan itu, dia menyebutkan ‘Jurnalis anjin dorang it’. [BOM]