Pasific Pos.com
Papua Barat

CT Terbanyak Dibawa dari Teluk Wondama

Manokwari, TP – Anggota Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Manokwari terus berupaya melakukan penertiban terhadap masuknya minuman keras (miras) ke Manokwari melalui jalut pelabuhan laut.

Kepala KSKP Manokwari, Iptu Abdul Rahman Sala mengatakan, dulunya, penertiban dilakukan melalui berbagai cara, mulai pendekatan persuasive hingga penindakan serta pemberian sanksi terhadap pelaku.

“Setiap kesempatan saya selalu sampaikan kepada masyarakat bahwa mengonsumsi minuman lokal berdampak buruk terhadap kesehatan dan bisa menimbulkan kriminal,” Abdul Rahman kepada Tabura Pos di ruang kerjanya, Jumat (2/3).
Meski begitu, ia mengaku sampai sekarang, pihaknya masih menerima laporan tentang peredaran minuman lokal, tetapi jumlahnya terus berkurang.

Ditambahkannya, pasokan minuman keras lokal yang masuk ke wilayah Manokwari selama ini, terbanyak dari Kabupaten Teluk Wondama, karena dikenal sebagai pabrik produksi Cap Tikus (CT).

“Beberapa kali kita operasi di Pelabuhan Marampa, kita dapati masyarakat yang membawa Cap Tikus dari Teluk Wondama,” ungkapnya.

Bukan hanya dari Teluk Wondama, Abdul Rahman mengaku, Cap Tikus biasanya diselundupkan melalui daerah Bintung dan Manado, Sulawesi Utara menumpang kapal Pelni.

Menurutnya, selama masa operasi minuman keras pada Januari dan Februari 2018, pihakya telah menyita sekitar 200 liter dan miras itu secepatnya langsung dimusnahkan.

Dicecar tentang upaya pemberantasan miras di Manokwari, Abdul Rahman menjelaskan, sesuai tupoksinya, hal pertama harus melakukan pendekatan persuasif, yakni kegiatan sosialisasi.

Di samping itu, ia mengaku akan berkoordinasi dengan PT Pelindo IV. Pelni, dan KSOP Manokwari untuk melakukan operasi rutin setiap jadwal pelayaran.

Disinggung apakah ada oknum-oknum yang ditetapkan menjadi tersangka penyelundupan, dia mengaku, pada 2017, terdapat 3 orang dan sudah menjalani hukuman di Lapas Manokwari, tetapi untuk tahun ini masih nihil.

“Biasanya mereka kalau sudah tertangkap, langsung pergi tinggalkan barangnya, bahkan tidak pernah kembali. Itu yang kadang menjadi kendala bagi kita,” tukasnya. [BOM-R1]