Pasific Pos.com
Papua Barat

Bocah Perempuan Korban Percobaan Pemerkosaan Andi Koromat, Trauma

Manokwari, TP – Pihak keluarga korban percobaan pemerkosaan terhadap JR, bocah berusia 8 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SD, menuntut keadilan atas tindakan yang dilakukan terduga pelaku, Hans alias Andi Koromat terhadap JR.
Diberitakan sebelumnya, JR menjadi korban percobaan pemerkosaan oleh tersangka Hans alias Andi Koromat di Reremi KPR, Kabupaten Manokwari, Kamis (1/3) sekitar pukul 06.00 WIT.

Ayah korban, Yohanes R mengungkapkan, akibat kejadian yang menimpa anaknya, kini JR mengalami trauma. “Kalau dia ketemu orang banyak, dia takut sekali,” ungkap Yohanes kepada Tabura Pos di Kantor DPR Papua Barat, Senin (5/3).

Bahkan, lanjut dia, anaknya kalau pergi ke sekolah sering murung dan jarang bermain dengan teman-temannya. Diutarakannya, jika negara ini adalah negara hukum, maka hukuman yang pantas dan seadil-adilnya harus diberikan terhadap terduga pelaku.

“Dia (Hans alias Andi Koromat) coba memperkosa anak saya tanpa ada rasa kemanusiaan atau pun rasa kasihan. Jadi, dia harus dihukum mati,” pinta Yohanes.

Ia menjelaskan, jika pengadilan memutuskan untuknya harus dipenjara, maka dia harus menjalani hukuman di penjara seumur hidup, bila perlu dikirim ke Nusakambangan.

Berdasarkan catatan Tabura Pos, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap JR yang disampaika petugas IGD RSUD Manokwari, dr. Queencia Morin, korban mengalami luka memar di bagian tubuh belakang.

Selain itu, Queencia Morin menambahkan, kaki dan tangan korban juga terdapat luka memar, sedangkan di kepala belakang korban mengalami bengkak akibat benturan.

Bukan hanya keluarga H. Salsabilla dan JR, tuntutan serupa juga disampaikan pihak keluarga korban pembunuhan yang menimpa Viktor Ariks, beberapa waktu lalu.

Ayah dari Viktor Ariks, Beny Ariks membeberkan, 2 tahun sudah nyawa anaknya direnggut, tetapi kenapa pihak kepolisian tidak mampu menangkap pelakunya.

Dikatakan Ariks, pihak kepolisian jangan hanya memberikan angin surga terhadap keluarga, tetapi harus bekerja keras mencari, menangkap, dan menghukum pelakunya seberat-beratnya.

Secara terpisah, Kapolres Manokwari, AKBP Adam Erwindi mengaku sudah membahas kejadian yang menimpa H. Salsabilla dan JR bersama DPR Papua Barat, Lapas Kelas II B Manokwari, LSM, pengacara, dan keluarga korban.

“Efek dari kejadian ini kan trauma bagi JR. Trauma bagi keluarga Salsabilla dan trauma terhadap masyarakat Manokwari pada umumnya,” ungkap Kapolres kepada para wartawan usai pertemuan di DPR Papua Barat, Selasa (6/3).

Ia menuturkan, untuk mengantisipasi kejadian ini tidak terulang kembali, pihaknya akan merumuskan bersama stakeholder terkait untuk memberikan jaminan keamanan terhadap masyarakat Manokwari.

Caranya, Kapolres mengatakan, membangun dan menghidupkan lagi pleayanan pos kamling atau siskamling di setiap wilayah perkampungan warga.

Disinggung tentang tuntutan keluarga korban bahwa terduga pelaku harus dihukum mati, Erwindi mengatakan, penerapan undang-undang yang sesuai sudah dilakukan, tinggal masyarakat menanti vonis yang diberikan pengadilan.

Mengenai kasus pembunuhan Viktor Ariks yang hingga sekarang tidak terungkap, Kapolres mengaku pihaknya masih melakukan pendalaman untuk mencari petunjuk yang mengarah ke pelaku.

“Kita minta keluarga korban tidak tertutup jika dimintai keterangan. Bantu kami mencari informasi terbaru tentang keberadaan pelaku,” pungkas Erwindi. [BOM-R1]