Pasific Pos.com
Papua Selatan

Bincang-Bincang Dengan Ketua PWI Jelang Hari Pers

‘Berharap Kehadiran Pers Diterima Dengan Baik’

 

MERAUKE,ARAFURA,-Program acara anak muda Pro 2 RRI Merauke, Kamis (1/2) menghadirkan dua sosok wartawan Kota Rusa jelang peringatan Hari Pers Nasional yang akan jatuh pada 9 Februari 2018 mendatang. Program Manemna Show yang dipandu penyiar bertalenta Franky Wohel ini secara khusus mengupas cerita dan kisah-kisah menarik yang tentunya sarat dengan suka duka ketika seorang jurnalis melaksanakan tugas peliputan di lapangan.

Lebih kepada berbagi cerita, program ini ingin menyampaikan kepada seluruh pendengar betapa pentingnya kehadiran pers di tengah-tengah masyarakat tidak terkecuali di Kabupaten Merauke.

Kali ini dua narasumber yang dihadirkan adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Merauke, Felix Hursepuny, S.Sos yang juga merupakan Pimpinan Umum Koran Harian ARAFURA News dan Istya Sari Utami salah seorang wartawati media lokal tersebut.

Cukup banyak hal penting yang disampaikan dalam acara bincang-bincang pagi tersebut yang diharapkan dapat membuka mata masyarakat tentang seluk beluk dunia jurnalistik yang sebenarnya. Sebagai Ketua PWI, Felix mengharapkan agar rekan-rekan wartawan yang bekerja di lapangan dapat diterima dengan baik terlebih ketika sedang melaksanakan tugas peliputan. Sebab dalam meliput suatu peristiwa setiap wartawan membutuhkan narasumber yang jelas sehingga perlu tercipta hubungan yang baik.

Menurut Felix, menggeluti dunia pers sudah menjadi panggilan hatinya karena sejak masih duduk di bangku kuliah di Universitas Sam Ratulangi dirinya telah aktif menulis di bulletin kampus. Ia juga rutin mengirim tulisan karyanya ke media besar yang termasuk group Jawa Pos di kota tempat kuliahnya yakni Manado Post. Ia berprinsip bahwa dalam setiap goresan tinta ada sumbangsih positif untuk membangun.

Pria yang juga mantan wartawan Cepos dan sekarang membuka media sendiri ini mengungkapkan bahwa ketika seorang jurnalis dapat mengungkap sebuah fakta dan mengangkat sebuah informasi sehingga menjadi konsumsi publik maka ada kepuasan tersendiri. Namun dengan catatan adalah konsumsi publik yang sifatnya membangun, positif dan menjadi karya jurnalistik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun yang menjadi napas sebuah produk jurnalistik, apakah TV, radio maupun koran yakni harus seimbang. Harus ada kroscek dan konfirmasi. Contohnya saja manusia, jika tidak bernapas maka akan mati. Begitu pula media, jika tidak berimbang maka media itu dapat dikatakan media mati. Ini yang menjadi poin penting sebagaimana yang diarahkan oleh Dewan Pers sebagai pusat media-media yang diakui oleh Undang-Undang bahwa setiap produk jurnalistik yang dihasilkan harus berimbang.

“Jadi pondasinya adalah Undang-Undang Pers sendiri lalu tiangnya kode etik dan napas di dalamnya adalah napas keseimbangan,”jelasnya. Diakui menggeluti profesi sebagai jurnalis sarat dengan suka duka karena ada yang bisa memahami profesi ini namun ada juga yang belum memahami. Bahkan bisa bertindak kasar meskipun selama ini belum sampai pada tindakan fisik. “Sebab ketika menulis kita tidak bisa memuaskan semua pihak karena itu ada yang memahami dan bisa menerima namun ada pula yang merasa kurang puas.

Tetapi setelah dikomunikasikan kembali dengan baik pada akhirnya semua menjadi jelas dan mereka bisa menerima,”terangnya lagi. Sementara itu Istya Sari yang kurang lebih sudah 14 tahun menjalani profesi sebagai wartawati mengungkapkan bahwa dirinya sangat menikmati profesinya. Oleh sebab itu sejak lulus kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sam Ratulangi langsung bergabung dengan media yang dikelola oleh Ketua PWI sekarang.

Hobinya yang suka berbicara, menulis dan ingin tahu banyak hal semakin mendorong dirinya untuk serius di bidang ini. Diakui banyak pengalaman berharga selama menjadi seorang wartawati dengan waktu yang cukup lama itu. Ia bisa mengetahui banyak hal, menambah wawasan, mengenal banyak orang bahkan yang paling menarik adalah dapat menyinggahi sejumlah daerah atau tempat-tempat menarik yang selama ini tidak pernah ia kunjungi.

Belum lagi bertemu tokoh-tokoh penting dan melakukan wawancara langsung juga menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Untuk menjadi seorang jurnalis menurutnya yang menjadi modal utama dan sangat penting adalah percaya diri, berani dan menguasai betul topik yang hendak dijadikan bahan berita ketika berhadapan dengan narasumber.