Pasific Pos.com
Papua Tengah

Biaya Angkutan Jadi Momok Bangun Kampung di Menou

NABIRE – Kendala yang dihadapi masyarakat di Distrik Menou untuk menunjang pembangunan di kampung selama ini adalah mahalnya biaya angkutan bahan. Kendala biaya angkutan menjadi momok bagi penunjang pembangunan segala bidang di Distrik Menou. Biaya pembangunan yang dianggarkan, sebagian besar tersedot dibiaya angkutan sehingga dana yang bisa dipakai untuk membangun di kampung kurang dari harapan. Biaya angkutan ke Menou menjadi momok untuk bangun kampung di Menou dan pembangunan sektor lainnya.

Kendala yang me-‘momok’-an pembangunan di Distrik Menou ini terungkap dalam hearing anggota DPRD Kabupaten Nabire, kelompok III yang dipimpin Ev Petrus Asso bersama masyarakat Menou di Aula Pertemuan Kampung Kunupi, Jumat (23/2) siang.

Dalam pertemuan bersama dengan wakil rakyat Nabire, masyarakat mengungkapkan, kendala yang dihadapi selama ini, adalah masalah angkutan bahan. Masalahnya, mau angkut lewat pesawat jenis kecil milik maskapai penerbangan swasta, biayanya Rp10.200.000 sekali terbang. Mau pakai helikopter, sekali terbang harus tebus dengan Rp 60 juta.

Masyarakat juga mengaku bingung untuk mencarter heli karena pernah dialami harga terbang yang berbeda antara pilot dan manajer pemilik helikopter. Pilot menawarkan harga miring kepada masyarakat dibanding harga carter heli yang disampaikan manajemen ketika konfirmasi ke manajemen.

Dengan perbandingan biaya angkutan lewat udara tersebut, masyarakat Menou mengatakan sedang bingung karena biaya angkutan jauh lebih mahal ketimbang biaya yang seharusnya dipakai untuk membangun satu rumah sehat di Distrik Menou.

Sebab, apabila dana kampung diusulkan untuk bangun satu rumah warga saja, biaya angkutannya jauh lebih mahal dari biaya membangun di kampung.(ans)