Pasific Pos.com
Papua Barat

Beras Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan, Pemerintah Diminta Perhatikan Kestabilan Harga dan Distribusi

Manokwari, TP – Beras dan rokok merupakan dua komoditas yang memberikan sumbangan paling besar terhadap garis kemiskinan makanan di Papua Barat. Pada Maret 2018, beras memberikan sumbangan sebesar 19,54 persen terhadap garis kemiskinan diperkotaan dan 20,56 persen di perdesaan. Sementara rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap gris kemiskinan, yakni di perkotaan sebesar 14,64 persen dan di perdesaan sebesar 2,44 persen. Oleh karena itu, Pemprov Papua Barat patut memberikan perhatian dengan upaya untuk mempertahanka harga dan menjaga distribusi.

Hal itu dikatakan Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Endang Retno Sri Subiyandani dalam rilis kemiskinan di kantor BPS Papua Barat, Senin (16/7).

Dia menerangkan, jumlah penduduk miskin atau yang berada di bawah garis kemiskinan di Papua Barat pada Maret 2018 sebanyak 214,47 ribu jiwa. Jumlah itu meningkat 0,76 persen disbanding kondisi September 2017 yang sebanyak 212,86 ribu jiwa.

“Namun, secara persentase jumlah penduduk miskin mengalami perbaikan menjadi 23,01 persen pada Maret 2018 dibanding kondisi September 2017 yang sebesar 23,12 persen,” ujarnya.

Menurut dia, persentase penduduk miskin diperkotaan pada Maret 2018 turun menjadi 4,10 persen bila dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang sebesar 4,16 persen. Sementara persentase penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2018 naik menjadi 35,31 persen dari kondisi September 2017 yang sebesar 34,12 persen.

Sementara itu, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan adalah makanan. Untuk garis kemiskinan di perkotaan, kelompok makanan memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan dengan 72,29 persen, sedangkan nonmakanan  hanya sebesar 27,71 persen. Sementara di perdesaan, komoditas makanan memberikan sumbangan terhadap garis kemiskinan sebesar 80,58 persen dan nonmakanan memberi sumbangan sebesar 19,42 persen.

Untuk komoditas makanan, beras dan rokok menjadi komoditas yang memberikan sumbangan paling besar terhadap garis.

Untuk menekan angka kemiskinan tersebut,  menurut Subiyandani, butu perhatian pemerintah. Sebab, BPS hanya memotret angka kemiskinan.

“Penduduk miskin di Papua Barat masih ada 6 sekian persen dari garis kemiskinan. Yang itu harus diangkat. Bagaimana caranya, ya kita melihat bahwa sumbangan-sumbangan kemiskinan makanan dan nonmakanan harus diperhatikan oleh pemerintah. Contohnya adalah beras. Beras itu pengaruhnya besar terhadap garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Itulah yang harus dipikirkan pemerintah,” ujarnya.

Selain beras adalah rokok. Sumbangan rokok terhadap garis kemiskinan cukup besar, terutama di perdesaan. “Saya heran, kenapa yang di perdesaan rokok itu sumbangannya besar sekali. Orang desa ini pengkonsumsi rokok dibanding orang kota. Sehingga pada saat harga rokok bergerak, sumbangannya bisa lumayan tinggi. Itu yang harus diperhatikan,” sebutnya lagi.

Oleh karena itu, menurut dia, yang perlu dilihat adalah komoditas-komoditas yang membentuk garis kemiskinan. “Itu yang patut dilihat supaya harganya bisa ditahan, di samping juga distribusi bantuan, seperti beras sejahtera, itu juga sampai pada rumah tangga yang memerlukan atau yang menjadi tujuan. Jadi jangan sampai hanya berhenti sampai di kota, karena alasannya transportasi lebih mahal daripada berasnya,” tukasnya.

Kasie Statistik Ketahanan Sosial, BPS Provinsi Papua Barat, Ika Rusinta Widiyasari menambahkan, untuk kebijakan, BPS memberikan rekomendasi. Misalnya,  kata dia, menyampaikan bahwa tidak cukup bila hanya mengangkat orang miskin untuk berada di atas garis kemiskinan.

“Dari miskin menjadi tidak miskin karena kita juga harus mempertimbangkan pemerataan. Jadi kalau kita hanya mengangkat orang miskin menjadi tidak miskin, tidak menyelesaikan masalah karena kesenjangan juga menjadi PR besar terutama di Papua karena Gini Ratio atau tingkat ketimpangan pengeluaran perkapita penduduk Papua Barat lebih tinggi daripada nasional,” sebutnya.

Menurut dia, jika Gini Ratio semakin besar, maka ketimpangan juga semakin besar dan akan menimbulkan sebuah fiksi dan kecemburuan. Hal itu akan berimbas pula pada keamanan.

Garis kemiskinan, jelasnya, terdiri atas dua komponen yakni makanan dan nonmakanan. Makanan menjadi penyumbang terbesar disbanding nonmakanan.

“Oleh karena itu, bagaimana pemerintah khususnya Pemprov Papua Barat menjaga kestabilan harga untuk komoditas makanan, terutama penyumbang terbesar garis kemiskinan, misalnya beras dan sebagainya,” tukasnya. (CR44)