Pasific Pos.com
Papua Barat

Barce: Kekurangan Fisik bukan Penghalang untk Maju

Manokwari, TP – Ada yang unik dalam kontingen mahasiswa IAKN Ambon yang diikutseratakan pada Pesparama Nasional ke-XV tahun ini. Di antara puluhan peserta dalam kontingen itu, terdapat salah satu penyandang disabilitas. Dialah Barce Layaba.

Dengan tongkat di tangan kirinya, pemuda yang disapa Barce ini tanpa ragu menaiki panggung bersama rekan-rekannya. Tak ada keraguan di wajahnya. Yang tampak hanya kegembiraan usai turun dari paggung.

Kepada wartawan, Barce membagikan pengalamannya mengikuti Pesparama Nasional kali ini. Dia mengaku sangat bangga karena dengan kondisinya seperti saat ini, dirinya bisa diikutsertakan bersama sesama mahasiswa lain berpartisipasi pada kegiatan akbar untuk mahasiswa tersebut.

“Beta sangat bersyukur,” ucapnya.

Meski tidak sama seperti teman-teman lainnya, Barce mengaku tidak menghadapi kendala saat berlatih. Kendala justru dihadapi ketika hendak bertolak ke Manokwari.

“Waktu di Ambon ikut semua latihan dengan baik, namun satu hari sebelum berangkat ke sini sakit, sampai di sini juga sakit. Sakit, sampai sekarang masih sakit. Hari pertama mau lomba, malamnya sakit sehingga beta tidak bisa ikut berlatih. Paginya juga kondisi tidak bagus, tapi pas ganti, selesai, beta percaya pasti Tuhan akan melindungi beta, beta yakin akan hal itu. Dan memang Tuhan benar-benar punya kuasa ada di situ, beta pulih dan bisa ikut lomba dengan baik,” tuturnya.

Pada hari kedua pun demikian. Barce kembali drop. “Paginya tidak bisa berlatih. Ketika hendak berangkat untuk tampil, beta berdoa dan Tuhan memang benar-benar luar biasa memberikan kekuatan untuk beta hingga benar-benar bisa pulih dan ikut tampil dan bersemangat,” ungkapnya.

Bagi dia, kondisi fisik tidak boleh menjadi penghalang untuk menunjukkan talenta atau bakat yang dianugerahkan Tuhan. Karena itu, harus dirinya selalu bersyukur dengan apa pun yang Tuhan berikan kepadanya.

“Beta berharap para pemuda dan mahasiswa untuk menunjukkan talenta yang diberikan Tuhan dalam kondisi apa pun. Harus selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan,” sebutnya.

Diakuinya, rasa minder memang ada, tapi itu pada masa kecil dulu. Itu karena dirinya sering dibully, tapi ketika beranjak dewasa, pikiran juga ikut dewasa, sehingga tidak pernah menanggapinya.

“Dengar (dibully, red) tapi, ah itu biasa. Itu tidak mejadi halangan untuk terus maju,” ujarnya.

Selama mengikuti kegiatan, dirinya pun mendapatkan perlakuan yang baik. Barce mendapatkan perlakuan yang sama dengan sesama mahasiswa lainnya.

Meski memiliki keterbatasan dari segi fisik, namun Barce punya potensi. Potensi itulah yang membuatnya terpilih menjadi salah satu peserta dari IAKN Ambon.

“Dia penderita penyakit kaki gajah. Meski demikian, Barce memiliki potensi dan kami tetap membuka ruang bagi siapa pun mahasiswa untuk bergabung. Sehingga di dalam tim tersebut ada yang baru bergabung, ada yang belum pernah, sehingga kami berupaya membimbing mereka,” tutur Pelatih Kepala Paduan Suara Mahasiswa IAKN Ambon, Egy Picnussa.

Bagi dia, kehadiran Barce dalam timnya tidak mengganggu penilaian juri teradap tim IAKN Ambon. Sebab yang dinilai bukan bagian tubuh, melainkan koral sound,” tutupnya. (CR44)