Pasific Pos.com
Headline Sosial & Politik

Banyak Pekerjaan Terbengkalai, Komisi IV DPR Papua Nilai Dinas PUPR Tak Serius

Ketua Komisi IV DPR Papua, Beatrix Herlin Monim, SE saat di wawancara di depan Venue Baseball – Softball, Uncen atas Waena, Kota Jayapura, Jumat (16/07). foto Tiara.

Beatrix Monim : Dana Rp 140 miliar, Itu Bukan Dana Kecil

Jayapura – Komisi IV DPR Papua bidang Infrastruktur menilai Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Papua tidak serius dalam mengerjakan pembangunan sarana penunjang pada sejumlah venue PON di Papua.

Hal itu ditegaskan Ketua Komisi IV DPR Papua, Beatrix Herlin Monim, SE kepada wartawan usai melakukan Kunker bersama anggota Komisi IV DPR Papua di Venue Baseball – Softball, Voli Indoor dan Voli Pasir, Kota Jayapura, pada Jumat 16 Juli 2021.

“Secara akumulatif dalam tiga hari kunker Komisi IV DPR Papua ke venue PON ini, kami sendiri ingin menegaskan bahwa Dinas PUPR harus lebih serius mengejar progress kegiatan ini selama dua bulan,” kata Herlin Beatrix Monim saat ditemui Wartawan usai melakukan kunjungan kerja, Jumat siang (16/07).

Bahkan ungkapnya, jujur Komisi IV DPR Papua tidak melihat keseriusan dari dinas terkait dalam menyukseskan penyelenggaraan PON Papua di tahun 2021.

“Itu terbukti dan kenyataan di lapangan yang kami dapati dan temui saat turun melakukan kunker,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kata Beatrix Monim, pihaknya meminta Dinas PUPR untuk lebih serius dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan ini, sehingga tidak hanya sukses penyelenggaraan PON, tetapi yang terpenting adalah nama baik Pemprov Papua dalam menyambut duta PON dan duta-duta olahraga di Tanah Papua.

Dijelaskan, alasan Komisi IV DPR Papua menyimpulkan ketidakadanya keseriusan dari Dinas PUPR dalam pembangunan sarana penunjang venue PON Papua, lantaran selama tiga hari kunker, tapi tidak menemukan satupun, baik staf Dinas PUPR, PPTK maupun konsultan yang berada di lokasi pekerjaan itu.

“Padahal kami kunker di lokasi pekerjaan itu, bukan hanya 30 menit, tapi di satu lokasi bisa sampai 2 jam, namun tidak ada satupun di sana. Dengan demikian, kami bisa menilai keseriusan Dinas PUPR dalam mengawasi pekerjaan sarana penunjang venue PON di sisa waktu yang begitu dekat, sehingga kami pun mengambil kesimpulan ketidakseriusan dinas dalam mengawasi atau melakukan kegiatan – kegiatan terkait sukses penyelenggaraan PON di tahun ini,” tandasnya.

Untuk itu, Politisi Partai NasDem itu menjelaskan, jika kunker Komisi IV DPR Papua kali ini dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan penggunaan APBD tahun anggaran 2020 – 2021, khususnya infrastruktur penunjang PON, sehingga pihaknya harus melakukan kunjungan yang bersifat inspeksi ke venue-venue PON di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura selama tiga hari. Yakni mulai 14 – 16 Juli 2021.

“Disini, kami melihat langsung sarana penunjang PON yang dikerjakan oleh Dinas PUPR yang menggunakan APBD Papua sekitar Rp 140 miliar. Sehingga Komisi IV DPR Papua turun langsung meninjau kegiatan-kegiatan tersebut,” jelasnya.

Apalagi, kata Beatrix Monim, fasilitas sarana penunjang venue PON itu menggunakan anggaran tahun jamak 2020 – 2021 sampai 2022 terutama untuk peningkatan akses-akses jalan.

“Kami melihat langsung, beberapa akses jalan menuju ke venue itu belum dikerjakan dan terlihat terabaikan. Kami Komisi IV sangat prihatin dan menyayangkan, karena kita tahu dengan semangat penyelenggaraan PON yang luar biasa, kami sendiri mendukung kebijakan pak Gubernur yang luar biasa, sehingga diharapkan tiga sukses yang dicanangkan yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi dan sukses administrasi itu bisa terwujud. Namun ini tinggal 76 hari lagi tetapi yang kami lihat kondisinya masih seperti ini,” tukasnya.

Beatrix Monim pun mengungkapkan jika Komisi IV DPR Papua sedikit pesimis akan hal itu. Namun, ia berharap kontraktor bisa bekerja dengan lebih ekstra agar terselesaikan tepat waktu.

Bahkan, Komisi IV DPR Papua berharap ketika menjelang pelaksanaan PON, seharusnya pekerjaan itu sudah diserahkan untuk bisa digunakan uji coba.

“Ya, minimal 1 bulan sebelumnya sudah selesai, sehingga hanya pembenahan kecil – kecil saja yang dilakukan,” harapnya.

Untuk itu, kata Beatrix Monim, Komisi IV DPR Papua akan memanggil dinas untuk bisa mendengar secara langsung terkait kendala hingga mengakibatkan keterlambatan pekerjaan pembangunan sarana penunjang pada sejumlah venue PON itu.

Padahal kata Beatrix Monim, anggaran untuk pembangunan sarana penunjang venue PON itu, sudah dianggarkan pada tahun 2020.

“Tadi kami turun di lapangan, kontraktor yang mengerjakan itu merasa sedikit terganggu. Karena venue sudah selesai, sementara mereka sedang pemeliharaan, namun ada pekerjaan baru yang tentu membutuhkan biaya lebih lagi untuk pemeliharaan. Ini berarti kita perlu menanyakan kembali terkait koordinasi dari setiap dinas, Dinas PUPR dan Disorda bersama kontraktor, karena pekerjaan ini saling berkaitan satu sama lain,” ujar Herlin Monim.

Dikesempatan itu, ia juga membeberkan jika pihaknya menemukan kejanggalan pada venue Baseball dan Softball. Dimana pihaknya menemukan pekerjaan saling menunggu, kontraktor yang satu menunggu kontraktor lain menyelesaikan pembangunan talud, kemudian baru dibangun pagar, setelah itu penataan kawasan.

“Nah, ini perlu koordinasi oleh pemilik pekerjaan yang dilakukan bersama kontraktor, sehingga tidak menimbulkan kerugian. Baik itu kontraktor maupun penyelenggara PON maupun tuan rumah. Jadi koordinasi itu, bukan hanya melalui rapat, tapi harus turun lapangan juga,” tekannya.

Lanjut dikatakan, meski dalam kontrak kerja itu, dengan batas waktu 90 hari, 120 hari atau 200 hari, namun waktu pelaksanaan PON tinggal 76 hari, sehingga dibutuhkan kerja ekstra untuk menyelesaikan pekerjaan.

“Tapi yang perlu dipertanyakan, apakah dengan buru-buru, lalu mengabaikan kualitas pekerjaan? Atau kah tetap kualitas pekerjaan tetap dijaga, karena seluruh venue dan sarana penunjang PON itu dibangun bukan hanya untuk PON saja, tapi bertahun-tahun digunakan dengan kualitas terbaik, sehingga dianggarkan dengan dana yang besar,” ujar Srikandi Partai NasDem itu.

Ketika disimggung terkait dengan persiapan pelaksanaan PON yang sudah di depan mata, Beatrix Monim berharap hal itu bisa berjalan dengan baik dan nama baik Pemprov Papua tetap terjaga.

“Ya tentu Dinas PUPR harus bekerja ekstra melakukan pengawasan terhadap kontraktor sehingga bisa menjaga nama baik dan kemudian bisa meraih tujuan. Bukan hanya sukses prestasi saja, tapi juga sukses penyelenggaraan dan sukses administrasi, dengan menyiapkan seluruh penyelenggaraan PON ini dengan baik,” ucapnya.

Kendati demikian, pihaknya juga berharap ke depan agar setiap perencanaan yang dilaksanakan harus dengan melihat kondisi sebenarnya, kemudian bisa direncanakan sehingga tidak seperti saat ini, semua serba terlambat.

Ia menambahkan, jika pekerjaan yang direncanakan, ada yang sebenarnya harus ada akses jalan lain, sehingga pekerjaan tidak terhambat. Tapi, karena tidak ada perencanaan, kemudian tidak ada pekerjaan, akhirnya pekerjaan lain bisa terhambat dan terabaikan.

“Seperti di Venue Baseball dan Softball itu, yang hingga saat ini tidak ada akses jalan masuk. Apakah tidak ada, atau ka memang belum dikerjakan, jadi dinas harus menjelaskan kepada kami, karena dana Rp 140 miliar untuk mengerjakan sarana penunjang itu, bukan dana kecil,” tandas Beatrix Herlin Monim.

Namun pihaknya berharap ada keseriusan dari Dinas PUPR bersama kontraktor untuk bersama-sama sehingga bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan itu.

“Ya, tentu dengan satu komitmen kita bersama bahwa penyelenggaraan PON ini harus sukses. Itu saja tujuan kita dan nama baik Papua sebagai tuan rumah PON harus tetap dijaga, sehingga tamu yang datang di Papua, dengan harapan yang baik dan membawa kesan dan suka cita yang baik pula ketika kembali ke daerahnya masing-masing,” imbuhnya. (TIARA).