Pasific Pos.com
Ekonomi & Bisnis

Bank Indonesia Dorong Pemda Tingkatkan Penggunaan Uang Elektronik

JAYAPURA – Bank Indonesia mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) meningkatkan penggunaan uang elektronik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Joko Supratikto mengatakan, daerah yang telah menerapkan sistem pembayaran elektronik adalah Kabupaten Jayapura di kawasan Bandara Sentani.

“Di Bandara Sentani kini parkir menggunakan sistem elektronik, ini kerjasama Bank Indonesia dan BRI. Kami juga akan dorong tempat parkir lainnya menggunakan parkir elektronik seperti di kawasan Pasifik Permai Ruko Dok II, “kata Joko dalam kegiatan pasar murah non tunai.

Menurut Joko, uang elektronik sangat bermanfaat sebab aman dan nyaman dapat mencegah kebocoran kas lantaran langsung masuk ke rekening.

Sementara itu, tahun 2017 pihaknya telah menerbitkan kurang lebih 1.000 kartu uang elektronik (e-money) pada kegiatan pasar murah non tunai.

Namun dari jumlah tersebut, penggunaan uang elektronik masih tergolong kecil lantaran tak didukung dengan jumlah merchant yang menerima pembayaran menggunakan uang elektronik.

Berdasarkan ini pula, pihaknya merubah strategi transaksi di pasar murah non tunai yang digelar tanggal 6-8 Juni 2018 di kawasan Taman Imbi, Kota Jayapura, Papua.

“Transaksi di pasar murah non tunai tak lagi menggunakan kartu uang elektronik, tetapi menggunakan kartu ATM, tujuannya untuk mendorong masyarakat menyimpan uang di bank, lalu belanja menggunakan ATM tak perlu repot membawa uang tunai terlebih dalam jumlah besar, “jelas Joko.

Disambut Antusias Warga

Pasar murah non tunai menyediakan 24 stand bahan pangan yang diklaim lebih murah dibandingkan harga di pasaran disambut positif oleh sejumlah warga Kota Jayapura, salah satunya Fauzia.

Walau mengaku sempat mengalami kesulitan lantaran pertamakali bertransaksi secara non tunai di pasar murah, namun Fauzia mengapresiasi Bank Indonesia lantaran telah menyediakan berbagai bahan pokok murah yang mengalami lonjakan harga menjelang Idul Fitri di pasaran.

“Sangat antusias, secara pribadi saya merasa terbantu dengan adanya pasar murah ini walaupun sedikit ribet ketika mau bertransaksi lantaran setiap komoditi yang akan dibeli diregistrasi dulu di stand perbankan yang ada di pasar murah, “kata Fauzia.

Berbeda dengan Fauzia, Nur mengaku sedikit kesulitan untuk membeli komoditi di pasar murah lantaran harus menggunakan kartu ATM.

“Awalnya belum tahu apabila berbelanja di pasar murah ini tidak bisa menggunakan uang tunai harus dengan kartu ATM, makanya saya batal berbelanja sebab saya tidak membawa kartu ATM, “tutur Nur.

Kendati mengaku kesulitan, tapi keduanya menyambut baik pelaksanaan pasar murah non tunai sebab mereka lebih memahami bahwa transaksi non tunai sangat bermanfaat bagi mereka selain aman, juga nyaman.