Menu

Line 1

Custom Search

Hukum dan Sepak Bola Indonesia

  • Ditulis oleh Super User
Penilaian: Rating Star BlankRating Star BlankRating Star BlankRating Star BlankRating Star Blank / 0
TerburukTerbaik 

Niko Dimo

OLEH: NICO DIMO

Kata hukum, Menpora Kandas Di Makamah Agung, benarkah dunia sepakbola Indonesia akan mulus untuk diaktifkan oleh pemerintah melalui  pencabutan ijin pembekuan agar PSSI boleh memutar kembali kompetisi sepakbola Indonesia.

Boleh ok tapi lebih banyak menurut saya tidak mungkin. Pemerintah adalah pemerintah.. sepakbola adalah sepakbola, tapi jika sepakbola itu ada di Indonesia tentu hukum nya pemerintah punya legelitas untuk campur tangan.
Berbeda dengan sepakbola di Negara lain, mereka tetap menjunjung tinggi apa yang namanya Statuta FIFA. Dan itu rambu-rambu sepakbola yang dinegara lain pemerintah mereka tak berani masuk untuk menginterfensi.
Ketika MA mengeluarkan putusan memenangkan PSSI pertanyaannya siapa yang mengesekusi putusan itu... lihat tidak adakan yang berani. Kita hanya menyaksikan di layar TV  kolomnis sepakbola dan pakar hukum tata negara mengeluarkan pendapat.. luar biasa.. mereka mengomentarinya tapi ujungnya tetap saja masih memohon lagi ke pemerintah.
Itulah rana dan corak hukum di Indonesia.. bisa dipermainkan ibarat kita beli sate makan dagingnya kita kenyang tapi tusuk satekan tidak dimakan harus dibuang nah.. yang dibuang inilah hukum itu masih diplang pling.. buktinya keputusan MA ya sekedar keputusan, tapi eksen akhirnya siapa yang mau berani datang kepemerintah lalu bertindak tidak adakan.
Berbeda dengan putusan kriminal jika sudah putusan di tahan tak ada embel-embel langsung dieksekusi tanpa perlawanan.. jadi ini warna Negara kita.. masih ada langit diatas langit.. sampai kapanpun deman dan sakit sepabola Indonesia tetap tak kita dapati obat mujarap.
Lihat ada campur tangan Wapres ada campur tangan tim Ad Hoc tapi tetap saja mentah karena itu keretakan antara PSSI dan Kemenpora yang mewakili Pemerintah harus saling terbuka untuk menyelesaikan persoalan sepakbola. Duduk bersama lalu saling membagi persoalan karena terlihat baik PSSI dan Pemerintah sama-sama memainkan lembaran jatidiri tidak ada yang mau mengalah.
Keputusan MA tentu kita sambut baik tapi itu hanya seremonia tentu akar persoalan akan tetap terpatri pada ijin pemerintah. Pemerintahlah yang mengendali kan.
Pemerintah sudah tetapkan 9 point untuk dilakukan PSSI dan salah satu butir PSSI lakukan musyawarah luar biasa untuk memilih ketua dan pengurus baru. Jangan PSSI berdalih lagi bahwa PSSI yang sekarang dipimpin La Nyala Matality saja belum kerja sejak dipilih  apa yang mau dimusyawarahkan.
Ingat ini sudah rana Politik tingkat tinggi tentu gaungnya sangat sensitif jika kita melawan, maka pasti hasilnyapun tidak bisa tembus tembok, lebih baik mengalah demi kemajuan aepakbola.
PSSI dan kolegahnya termasuk klub-klub tinggalkan kesan keangkuhanmu coba mulai merapatkan barisan ikuti keinginan pemerintah lakukan musyawarah untuk memilik ketua dan anggota PSSI yang baru karena jika ini dilakukan hemat kami selesailah sudah kekisruan sepakbola Indonesia.
Nama seperti Djoko Driyono dan Erick Tohir tentu bisa diusung sebagai calon ketum PSSI pada musyawarah tersebut. Dan sepak terjang kedua orang ini tentu bagi sepakbola Indonesia masih tergolong yang terbaik setelah La Nyala Mattality. Pasti sepakbola tetap eksisko.
Djoko Driyono punya segudang pengalaman tentang sepakbola Indonesia sedangkan Erick Tohir memiliki wawasan sepakbola Internasional yang tentu bisa memperbaiki sepakbola Indonesia dengan pengalaman memiliki saham diklub Italy. Apa yang kurang dari kedua tokoh sepakbola ini.
Tentu hanya satu pilihan maukah para klub-klub sepakbola kita menerima dan mau melakukan hal ini sementara La Nyala Mattality sendiri tak sedikitpun mau dirinya dilengserkan dari Ketum PSSI dan klub-klub pun terkesan takut pada La Nyala Mattality.
Kalau ini yang tetap dipertahan kan maka akan kita lihat sepakbola kita tetap akan mati suri dalam 2 tahun kedepan karena pemerintahpun akan tetap menuntut kesembilan point yang telah dikeluarkan kepada PSSI.
Dan ujung-ujungnya selama 2 tahun sepakbola Indonesia akan berkutat di Turnamen yang gaungnya bisa kita sebut " TARKAM" dan pemerintah tidak pernah berpikir kebijakan yang dilakukan salah sebab unjung akhit dari Turnamen itupun ada kehidupan untuk pemain.
Kata kita menpora kandas di MA. Tapi menurut hemat kami menpora adalah kepanjangan tangan Pemerintah tentu sekarang harus ada yang bisa mengalah dari s salah satu baik PSSI sendiri maupun klub-klub pemerintah kami lihat tetap pada keputusannya yaitu Pembekuan.

  • No comments found

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
Info for bonus Review bet365 here.