Menu

Line 1

Custom Search

Jurnalisme Damai

  • Ditulis oleh Super User
Penilaian: Rating Star BlankRating Star BlankRating Star BlankRating Star BlankRating Star Blank / 0
TerburukTerbaik 

Jurnalis

Oleh : Yaan Yoku

Media massa memiliki kekuatan untuk membentuk dan menggiring opini publik melalui sebuah pemberitaan, sehingga dalam setiap informasi yang disajikan kepada publik harus benar-benar terseleksi melalui proses check and richeck, tidak mengutamakan kecepatan tapi mengabaikan keakurasian berita. Sehingga tanpa melalui proses check and richeck peristiwa tersebut diberitakan, padahal dampak yang ditimbulkan dari pemberitaan tersebut sangat luar biasa dan dapat merugikan pihak lain, apalagi untuk hal yang sangat sensitif dan seksi sehingga berita tersebut bisa bersifat provokatif .
Kecepatan dalam memberitakan sebuah peristiwa yang terjadi merupakan syarat utama dalam kerja-kerja jurnalistik, namun tidak hanya kecepatan saja yang harus diutamakan dalam sebuah pemberitaan tapi juga ketepatan dan akurasi dari sebuah pemberitaan. Hari ini dengan keterbukaan informasi dan didukung dengan ketersediaan saluran media yang sangat memadai membuat kerja-kerja jurnalis semakin mudah, dimana saja, kapan saja sesuatu peristiwa dapat di publish dengan cepat.
Peristiwa Tolikara menjadi catatan penting bagi teman-teman media, tanpa melalui proses check and richeck dengan cepat tersebar sebuah pemberitaan yang tidak memiliki tingkat akurasi yang baik yang akhirnya membentuk opini di publik bahwa di Papua mencekam, muslim di Papua terancam, toleransi beragama telah hancur, Tolikara mencekam dan anggapan-anggapan lain terkait pemberitaan tersebut.
Padahal di hari yang sama sesama orang Papua saling mengunjungi saudara-saudaranya yang sedang merayakan Idul Fitri. Selain itu, peristiwa ini hanya terjadi di Kota Karubaga sedangkan distrik-distrik lain di Tolikara tidak terjadi apa-apa dan masyarakatnya hidup damai, artinya bahwa di tempat lain di Papua situasinya aman tidak mencekam seperti dibayangkan, dan peristiwa yang terjadi pada pagi hari, malamnya di hari yang sama semua komponen telah berdamai, sehingga sudah aman.
Namun situasi dan fakta yang ada ini tidak di potret dengan baik oleh media, sehingga berita tentang Tolikara di blow up sedemikian rupa oleh media nasional dan sangat merugikan tanah Papua dan kehidupan beragama di tanah ini. Berbagai narasumber dan pengamat di hadirkan untuk bicara tentang peristiwa Tolikara padahal mereka tidak tahu dan tidak mengerti serta memahami apa-apa hanya memperkeruh situasi dan suasana damai yang ada.
Pemerintah Provinsi Papua dan seluruh masyarakat Papua kecewa dengan pemberitaan media nasional yang tidak berimbang dan sangat tendensius sekali. Harusnya media mengedepankan kepentingan bangsa dan negara ini, bukan mengedepankan kepentingan kelompok atau agama tertentu, sehingga memblow up sebuah pemberitaan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah opini publik yang sangat tidak proporsional. Harusnya untuk kepentingan bangsa dan negara media seharusnya mendorong pemberitaan yang mengarah pada jurnalisme damai.
Memberikan ruang dan kesempatan bagi orang di Papua untuk menjelaskan tentang peristiwa yang sudah terjadi melalui pemimpin-pemimpin yang ada di Papua, TNI-POLRI, Pemerintah Provinsi Papua, tokoh agama, tokoh masyarat dan komponen lainnya yang ada di Papua. Bukan bertanya pada orang yang tidak mengerti apa-apa tentang Papua dan juga fakta yang terjadi di Tolikara, akhirnya memperkeruh suasana dengan informasi yang simpang siur, sehingga menghadirkan  trending topic informasi adalah musola di bakar padahal musola ikut terbakar itulah faktanya.
Sangat disayangkan media-media nasional menggiring dan menggoreng peristiwa Tolikara mengarah pada setimen agama antara muslim dan nasrani. Padahal mereka tidak tahu bahwa pemerintah Provinsi Papua dan seluruh stack holders pembangunan di tanah ini bekerja keras, tidak istirahat dengan baik di hari libur, hanya untuk mempertahankan keutuhan NKRI dan kedamaian di tanah Papua.
Belajar dari pengalaman ini, maka kepada seluruh penggiat media di tanah ini, dalam pemberitaan harus lebih mengedepankan jurnalisme damai. Fakta tetap harus diberitakan tetapi harus proporsional dan berimbang dengan mengedepankan kaidah-kaidah jurnalistik serta mempertimbangkan dampak dari pemberitaan itu sendiri. Bukan untuk mengejar kecepatan berita dengan mengabaikan keakurasian berita. Ralat atau penjelasan susulan terkait sebuah kebenaran juga memerlukan waktu untuk mengembalikan apa yang sudah terbentuk melalui informasi awal yang tidak akurat karena telah menyesatkan publik.
Karena itu, bagi teman-teman kontributor atau koresponden media nasional yang ada di Papua, harus dapat mengedepankan jurnalisme damai terhadap semua informasi yang di kirim untuk menjadi bahan pemberitaan di nasional. Dengan berperan aktif untuk menyampaikan informasi yang benar serta didukung fakta lapangan yang akurat, bukan yang didengar dan dilihat saja. Selain itu, ketika terjadi pemberitaan media yang terlalu memblow up dan tidak sesuai dengan kondisi riil yang ada, maka teman-teman media di Papua bisa memfasilitasi suatu pemberitaan yang dapat menyeimbangkan pemberitaan di media nasional agar masalah yang terjadi di Papua tidak berekses kemana-mana sehingga memberikan ruang dan kesempatan untuk di blow up.
Mengapa hal ini penting, karena media nasional menjangkau seluruh Indonesia, dan ini akan merugikan kalau informasi yang diberitakan tanpa melalui suatu proses check n richeck dengan mengedepankan jurnalisme damai. Karena itu, pemilihan narasumber dan judul berita juga sangat menentukan bagi sebuah dampak yang diakibatkan oleh pemberitaan. Selain itu informasi yang disajikan tidak hanya dalam bentuk spot news saja dengan mengedepankan unsur kecepatan serta yang memenuhi unsur berita 5W1H tetapi harus diimbangi dengan feature supaya semuanya terpotret dan tergambarkan dengan baik, sehingga peluang dan potensi pembangunan yang ada di Papua dapat tetap terbuka bagi kepentingan investasi kedepan. Karena itu media juga memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam menjaga situasi keamanan dan kelangsungan pembangunan di tanah Papua melalui pemberitaan yang lebih mengedepankan jurnalisme damai.

Penulis adalah PNS pada DISORDA Provinsi Papua

  • No comments found

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
Info for bonus Review bet365 here.