Pasific Pos.com
Lintas Daerah

Ada Dua Nama, Terjadi Perebutan Kursi PAW di DPRD Waropen

Ketua DPC PDIP Kabupaten Waropen
Ketua DPC PDIP Kabupaten Waropen Markus Buinei

WAROPEN, – Pergantian antar waktu (PAW) Anggota DPRD Kabupaten Waropen periode 2014-2019 terhadap Alm. Yakob Kobai, dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang mana yang bersangkutan telah meninggal dunia, dinilai terlalu lama prosesnya.

Pasalnya PDIP mengajukan dua calon daftar tunggu yakni suara terbanyak urut dua diusulkan oleh DPD dan suara terbanyak nomor tiga diusulkan oleh DPC.

Selain dua nama calon daftar tunggu yang diusulkan oleh PDIP, juga ada persoalan internal badan kehormatan. Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Waropen, Hengky Maniagasi, saat ditemui di halaman kantor BPKAD pekan lalu.

Menurut Hengky, badan kehormatan telah menyampaikan surat kepada pimpinan DPRD Waropen, untuk mengusulkannya kepada KPU terkait proses PAW. Namun saat surat dibalas oleh KPU, juga ada surat dari DPD PDI yang disampaikan kepada DPRD Waropen terkait dengan PAW, poin dalam surat tersebut mengatakan bahwa seharusnya yang berhak menggantikan Almarhum Yakob Kobai adalah Yenike Suryana K.Dipan, S.Sos.

“Surat tidak sesuai dengan prosedur, sampai pada tingkatan terahir, surat yang disampaikan oleh badan kehormatan kepada pimpinan DPRD untuk diusulkan kepada KPU terkait proses PAW sebelumnya akan dilakukan klarifikasi lagi,” papar Hengky.

Lanjutnya, DPRD Waropen juga menerima surat dari DPD PDIP Provinsi Papua, dimana isi dalam surat tersebut dengan tegas menegaskan, segala sesuatu terkait dengan proses PAW yang dikeluarkan oleh DPC PDIP Kabupaten Waropen dinyatakan tidak sah, namun hal itu pun dibarengi dengan surat dari DPP PDIP sendiri.

Melihat hal tersebut Pimpinan DPR mengambil alih untuk sementara waktu dan menunggu rapat badan kehormatan untuk mengklarifikasi persoalan PAW, agar tidak terjadi kekeliruan.

Di tempat terpisah, Yenike Suryana K. Dipan saat ditemui mengatakan, terkait dengan proses pengusulan PAW bukan DPC yang mengusulkan, tetapi dengan rekomendasi DPP PDIP Pusat. Selain itu, proses sebenarnya adalah DPC Kabupaten Waropen mengambil daftar tunggu dari KPU yang dilegalisir, lalu dikirimkan ke DPD, dari DPD melanjutkan ke pusat baru keluarlah persetujuan DPP Pusat.

“Persetujuan DPP Pusat yang menentukan siapa sebenarnya yang menggantikan Almarhum,” ujarnya.

Lanjut Yenike, terjadi karena ketidakpahaman dari oknum pengurus DPC Kabupaten Waropen, sehingga yang terjadi mereka yang mengusulkan langsung bukan yang diusulkan oleh pusat. Melihat hal itu Yenike melakukan pengaduan ke pusat.

“Saya sebagai daftar tunggu nomor suara terbanyak ke dua melakukan pengaduan ke pusat menyangkut hal ini,” tegas Yenike.

Yenike menduga, DPC tidak mengusulkan namanya untuk proses PAW dikarenakan ia pernah mengikuti seleksi anggota Pengawas Pemilu (Panwas), sehingga ia dinyatakan mengundurkan diri dari partai, namun yang terjadi adalah ia mengundurkan diri dari seleksi Panwas karena tidak memenuhi persyaratan salah satunya adalah surat pengunduran diri dari partai, yang tak terlampir.

“Saya tidak pernah mengundurkan diri dari partai PDI Perjuangan, yang terjadi adalah saya membuat pengunduran diri dari Panwas Kabupaten Waropen karena dari tes saya tidak bisa memenuhi satu persyaratan yang diajukan oleh Panwas yaitu surat pengunduran diri dari partai, jadi saya statusnya saat ini adalah masih anggota partai PDI Perjuangan”.

Selanjutnya Pdt Apolos Buinei,STh yang saat itu menjabat sebagai Ketua Panitia Pelaksana (Pansel) saat dikonfirmasi mengakui bahwa benar Yenike pernah mengikuti seleksi anggota pengawas pemilu, namun sudah mengundurkan diri sebelum menuju ke tes wawancara karena tidak dilampirkannya surat pengunduran dirinya dari anggota Parpol.

“Ibu Yenike belum pernah memberikan surat pengunduran diri dari partai kepada pansel, namun yang terjadi adalah ia mengundurkan diri dari seleksi panwas, karena tidak memenuhi berkas-berkas pada tahap wawancara,” terangnya.

 

Ketua DPC PDIP Kabupaten Waropen
Ketua DPC PDIP Kabupaten Waropen Markus Buinei

Lain halnya yang dikatakan oleh Ketua DPC PDIP Kabupaten Waropen Markus Buinei. Saat dikonfirmasi dia mengatakan, Yenike telah mendaftar diri kepada panitia pengawas (Panwas), saat itu dinyatakan lolos pemberkasan, selanjutnya lolos tes murni tinggal tes wawancara.

“Saat itu bapak Yakob Kobai, SE meninggal dunia, dan Ibu Yenike membuat surat pernyataan penarikan diri kembali, dan ini yang jadi masalah kita,” terang Markus.

Kata dia, KPU sempat mempelajari surat dari DPC sehingga KPU menetapkan Saudara Yance Wayoi menjadi calon pengganti, hal ini pun membuat saling Tarik menarik hak.

“Yang mengatakan itu aturan PKPU No 11, bukan saya, itukan aturan, setelah dia keluar dari partai untuk mendaftar diri pada kegiatan yang lain maka dengan sendirinya telah mengundurkan diri,” tambah Markus.

Di sisi lain, Markus membenarkan bahwa Yenike saat Pileg periode sebelumnya mendapatkan suara terbanyak urutan kedua setelah almarhum. Dimana yang bersangkutan masuk dalam daftar tunggu. (af).