Pasific Pos.com
Papua Barat

Achmad dan Yuliana Atur Pembunuhan di Makassar

Manokwari, TP – Kasus pembunuhan pemilik warung Coto Makassar di Kompleks Pasar Wosi, Manokwari, 9 April 2017 silam, almarhum Abdul Hakim Hafid, dilanjutkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Manokwari yang diketuai, Sony A.B. Laoemoery, SH, beragenda pemeriksaan saksi, Rabu (7/2).

Dalam persidangan itu, jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Manokwari, Ramli Amana, SH menghadirkan terdakwa Achmad Yani untuk bersaksi terhadap terdakwa Yuliana Rasyid, dan sebaliknya.

Dalam keterangannya, Achmad Yani mengaku bersama terdakwa, Yuliana Rasyid sudah mempunyai niat membunuh suaminya saat mereka berdua bertemu di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Lanjut dia, setelah Yuliana Rasyid kembali ke Manokwari, mereka tetap berhubungan melalui ponsel untuk merencanakan pembunuhan suami terdakwa.

“Terdakwa bilang kalau sampai hubungan di antara mereka diketahui suaminya, maka kita berdua tidak bisa menjalani hubungan lagi. Akhirnya, kita berdua membuat keputusan segera membunuh suaminya,” kata Achmad Yani.

Untuk memuluskan rencana itu, Yuliana Rasyid mengirim uang untuk Achmad Yani untuk berangkat dari Makassar ke Manokwari.

“Saya tiba di Manokwari tanggal 7 April 2017, lalu saya naik ojek menuju Hotel Fortune untuk menginap. Saat saya berada di Hotel Fortune, terdakwa Yuliana Rasyid mendatangi saya dan menunjukkan sejumlah foto letak rumahnya, kamar anaknya, dan kamar suaminya di lantai 2,” jelas dia.

Menurutnya, foto-foto itu untuk mengatur rencana pembunuhan Abdul Hakim Hafid. “Saat itu terdakwa beritahu jam-jam saat suaminya tertidur dan terdakwa meminta agar suaminya tidak ditikam, tetapi lehernya yang dicekik,” tambah terdakwa.

Dia menguraikan, saat berada di Manokwari, Yuliana Rasyid memberikan uang untuk saksi membeli sarung tangan dan shebo untuk menutup wajahnya.

Diakui Achmad Yani, dirinya keluar dari Hotel Fortune sekitar pukul 22.00 WIT, menuju rumah korban untuk melancarkan aksinya. Namun, sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), pintu depan warung terkunci, lalu dia berkomunikasi dengan Yuliana Rasyid melalui ponsel, meminta agar segera membuka pintu warung.

Sekitar pukul 24.00 WIT, saksi sudah berada di rumah korban. Selanjutnya, saksi naik ke lantai 2 dan melihat korban dan Yuliana Rasid lagi tidur di lantai dan anaknya tidur di atas kasur. Kemudian, saksi kembali ke dapur untuk mengambil pisau, lalu masuk ke kamar korban dan mencekik leher korban, tetapi korban melakukan perlawanan, sehingga saksi mengambil pisau yang sudah disiapkannya untuk menusuk korban.

“Saya tusuk sekitar 3 kali, di leher, dada kiri, dan di punggung. Setelah itu, saya keluar dan melarikan diri ke arah Jembatan Pasar Wosi dan membuang pisau serta sarung tangan ke laut. Saya lanjut ke depan Hotel Soribo lalu membuka celana panjang dan membuangnya ke dalam got dan kembali ke Hotel Fortune,” terang Achmad Yani.

Usai persidangan, JPU mengatakan, berdasarkan keterangan saksi Achmad Yani sebagaimana yang termuat dalam berita acara pemeriksaan (BAP), menggambarkan proses perencanaan dari perbuatan menghilangkan nyawa korban, Abdul Hakim.

“Dari keterangan saksi Achmad Yani sudah jelas bahwa fakta atau materil dari perbuatan ini, inisiatifnya berada terdakwa Yuliana Rasyid untuk menghabisi korban. Ini ditunjang atau didukung fakta-fakta perbuatan, mulai perencanaan awal hingga kejadian di rumah terdakwa sampai dengan yang menjadi korban adalah suami dari terdakwa sendiri,” terang Amana kepada Tabura Pos, kemarin.

Dikatakannya, ada keadaan-keadaan di mana terdakwa Yuliana bisa menghentikan supaya rencana pembunuhan tidak terlaksana, tetapi walau keadaan itu ada, terdakwa tidak mengindahkan keadaan itu, sehingga perbuatan atau kejadian pembunuhan bisa terlaksana.

Ia membeberkan, dari fakta berkas perkara, antara saksi Achmad Yani dan terdakwa, Yuliana Rasyid mempunyai hubungan saat masih muda, tetapi hubungan itu tidak direstui keluarga terdakwa, sehingga mereka berpisah.

Namun, beberapa tahun kemudian, mereka bertemu dan kembali berhubungan seperti masa muda. Kemudian, hubungan mereka pun semakin intens, sehingga ada niat-niat dari terdakwa melegalkan hubungan mereka.

Terdakwa, kata Amana, akhirnya berangkat dari Manokwari untuk menemui kakak saksi, Achmad Yani di Makassar agar mendapat restu untuk menikah.

“Tapi, karena adat Bugis tidak boleh menikah dengan orang yang sudah memiliki suami. Hubungan itu sangat dekat dan tidak bisa dipisahkan lagi, akhirnya timbul niat terdakwa Yuliana Rasyid agar bagaimana menghabisi suaminya,” terang Amana.

Ia menambahkan, mulai dari perjalanan dan saksi tiba di Manokwari, semua adalah niat awal dari terdakwa, Yuliana Rasyid untuk mendatangkan Achmad Yani untuk memuluskan perbuatan mereka.

Menurutnya, ada banyak keadaan dimana terdakwa, Yuliana Rasyid bisa mengurungkan niatnya, misalnya saat Achmad Yani mau datang ke rumah korban, ternyata rumah itu terkunci dan dibuka sendiri oleh terdakwa, sehingga memudahkan Achmad Yani masuk ke dalam rumah.

Begitu pun, sambung Amana, keadaan-keadaan di mana kamar korban terkunci, tetapi dibuka terdakwa untuk mengeksekusi korban dan saat itu tidak ada upaya dari korban menghentikan aksi pembunuhan tersebut.

“Pertanyaan saya yang berat dijawab terdakwa bahwa perbuatan ini dilakukan secara sadis. Kenapa, posisi korban dalam keadaan tidur dan ada jeda waktu di mana korban sebelum tidur apa yang dilakukan terdakwa, sehingga korban tidur. Kemudian, mereka dengan leluasa bisa menghabisi korban. Sekiranya korban itu tidak tertidur, kemungkinan fakta akan berubah, entah siapa yang mati atau seperti apa,” tambah JPU.

Setelah Achmad Yani memberikan kesaksian, giliran Yuliana Rasyid yang menjadi saksi untuk terdakwa Achmad Yani. Namun, pada pukul 20.00 WIT, majelis hakim memutuskan menutup persidangan dan akan dilanjutkan hari ini dengan agenda pemeriksaan Yuliana Rasyid terhadap terdakwa Achmad Yani. Sesuai pantauan Tabura Pos, persidangan dimulai pada pukul 16.00 WIT dan dihadiri keluarga korban.[FSM-R1]