Keterbatasan SPBU Penjual Solar Sebabkan Antrean Panjang di Jayapura

Jayapura,- Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas, mengungkapkan bahwa antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jayapura terutama terjadi pada pembelian Solar. Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya SPBU yang menyediakan jenis BBM tersebut.

Dari total sembilan SPBU yang beroperasi di Jayapura, hanya lima yang menjual Solar. “Jumlah konsumennya banyak, SPBU yang jual solar terbatas. Itu yang menyebabkan antrean,” jelas Ispiani Abbas.

Terkait peluang penambahan SPBU di wilayah Papua, ia menyampaikan bahwa Pertamina terbuka terhadap investasi. Namun, pembangunan SPBU baru di Papua memiliki tantangan tersendiri, mulai dari regulasi hingga kesiapan lahan. “Pertamina terbuka untuk investasi. Namun semua tahu bagaimana tantangan membangun SPBU di Papua,” jelasnya.

Abbas juga menyinggung soal pemahaman masyarakat terkait kuota pembelian BBM berbasis QR code. Menurutnya, masih banyak konsumen yang keliru memahami kuota sebagai jatah harian yang harus diambil, sehingga mereka datang ke SPBU hanya untuk menghabiskan kuota tersebut.

“Setiap kendaraan sudah memiliki kuota masing-masing dalam barcode. Tidak boleh membeli melebihi kuota. Tapi ada yang menganggap itu jatah harian yang wajib diambil. Perilaku ini juga memengaruhi antrean,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pertamina akan melayani seluruh pembelian yang sesuai dengan kuota dalam QR code. Namun, penggunaan maupun tujuan pembelian di luar ketentuan tidak menjadi tanggung jawab pihak Pertamina.

Menjelang Natal dan Tahun Baru, Pertamina memastikan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan aparat untuk menjaga kelancaran distribusi BBM. “Kami pastikan stok aman. Yang terjadi di lapangan lebih kepada pola antrean dan perilaku pembelian, bukan kelangkaan,” tegas Abbas.

Dalam inspeksi mendadak Gubernur Papua dan rombongan ke Pertamina Jayapura, Abbas turut memaparkan bahwa ketahanan stok BBM Pertamina berada pada level aman untuk sepuluh hari ke depan. Kapasitas tersebut dijaga dengan mempertimbangkan kemampuan tangki, biaya produksi, dan jadwal kedatangan kapal pengangkut BBM.

“Ketahanan stok kami mencapai sepuluh hari ke depan. Ini harus dijaga sesuai jadwal kapal masuk. Kami tidak bisa memperbesar stok karena kapasitas tangki dan biaya produksinya menyesuaikan kondisi Papua,” tutupnya.

Related posts

Pemerintah Papua Lakukan Pemeriksaan Dispenser BBM di SPBU Jayapura

Bams

Tingkatkan Karakter Guru Guna Pembinaan Karakter Siswa

Fani

Kisruh Pemilihan KNPI Distrik Depapre, Cristoporus Suebu : Saatnya Pemuda Bersatu Dukung Pembangunan

Fani

PTFI dan YPMAK Serahkan Bantuan untuk Warga Tsinga yang Terdampak Longsor

Bams

Hasil Seleksi Petugas Haji 1446 H Diumumkan Januari 2025

Fani

Ciptakan Tenaga Kesehatan Profesional, APKER RS Marthen Indey Gandeng UNICEF

Bams

Leave a Comment