Pasific Pos.com
Opini

Mata-Hati, Mata-Mata, Hati-Hati

Penulis : Irenius Eratus Tebay, M.Sos

Fasilitas umum, pos jaga, kantor DPR, mobil-mobil, ban-ban, hingga nyawa melayang di satu minggu ini. Indonesia memanas walau angin muson timur berhembus dingin, namun kekeringan yang dibawanya juga memanaskan dan membarakan api di setiap hati masyarakat yang saat ini sudah sangat kekeringan.

Satu dua, duar. Kembang api menyala, mengarah pasti ke kantor-kantor pemerintah dan bawahannya. Percik api mulai menyala, teriakan ACAB berkumandang, begitu juga dengan seruan Isilop pembunuh. Saya kira lagu bayar bayar bayar Sukatani sudah cukup menggambarkan pihak keamanan negeri ini, ternyata mereka mentakedown lagu itu memang benar-benar mereka tidak seperti yang ada di lagu itu, namun lebih parah dan lebih buruk dari lirik-lirik indah sukatani.

Kemarin siang, saya melihat betapa indahnya emak-emak sendiri berdiri memegang bendera memukul barikade keamanan, dalam benak saya, ibu siapa ini pemberani sekali mencari anaknya hingga ke jalanan yang sedang rusuh kacau balau. Setelah dicari tau, ternyata justru anaknya yang seharian mencari emaknya pergi kemana. Sungguh plot twist, emak-emak yang seharusnya duduk di ruang tamu menunggu kabar anaknya pulang, justru turun ke jalan.

Anak SMA/SMK/STM pun yang selama ini dikoarkan hanya mengikuti ataupun ikut-ikutan kakak-kakak mahasiswa membuat rusuh, kali ini turun dengan membawa bekal paling enak, lebih enak dari sekotak indomie padat, namun amanat yang dikhianati negara itu sendiri.

Guru mereka dikatakan beban oleh negara, hati siswa mana yang tidak robek mendengarnya? Mungkin guru-guru itu yang membuat mereka kesal tiap hari karena dimarahi dan tugas-tugas yang menumpuk, tapi bagi mereka guru-guru itu adalah ibu dan bapak mereka ketika keluar dari pintu rumah.

Selain mereka, mungkin tidak ada lagi yang lebih mulia di dalam benak dan relung hati anak-anak itu, menghina guru sama saja dengan menghina generasi ke generasi yang sudah dibimbing oleh mereka selama ini.

Kabar baiknya datang dari hati setiap masyarakat, belakangan hilang semua isu golongan yang diciptakan selama ini, untuk negara tidak ada benci satu sama lain lagi, semua satu, satu suara, pemerintah harus bertanggung jawab untuk semuanya. Ini bukan salah satu dua institusi, ini kewajiban semua pihak baik yudikatif, legislatif, maupun eksekutif.

Mereka yang sudah menimbun daun kering terlalu lama, jika hari ini masyarakat membakarnya bukan salah rakyat menyalakan api yang besar di depan mata mereka.

Perjalanan panjang yang sudah terlalu banyak kabel putusnya, sudah terlalu banyak gigitan-gigitan tikus yang memotong kabel-kabel yang ada di dalam sistem, saat ini tinggal menunggu listrik itu korslet atau arus balik yang besar, akan kah ada ledakan, atau percikan api kecil yang pada akhirnya sama saja, akan membakar seluruh sistem yang selama ini ada.

Pemadam kebakaran akan kah mampu? Akankah muncul pahlawan baru? Kita tunggu saja, apakah ini akan menjadi kisah lawas yang berulang kembali, permintaan maaf dengan muka seakan-akan sedih, mencari-cari lagi simpati, atau menggerakkan buzzer yang pantang menyerah sebelum mati.

Entah cerita ini berakhir seperti apa, apakah akan sama saja dengan sinetron yang bersambung ke episode selanjutnya, atau kisah Revolusi mawar georgia.

Leave a Comment