Pasific Pos.com
Papua Tengah

303 Marak Sampe Dipertanyakan? Kota Emas Ya…

NABIRE – Kabupaten Nabire yang dulu disebut kota singkong, kini menjadi kota emas apakah kelak akan berubah nama atau istilah lagi. Semoga tidak, apalagi sampe (baca sampai) ketika dikatakan atau disebut Batam atau Macau kedua.

Jadi pertanyaan sekarang, apakah di kota ini tidak ada kegiatan perjudian atau pemberlakuan pasal 303 KHUP dilakukan, tanpa tembang pilih? seperti judi kartu, dadu atau koprok yang dikenal di Batam dan judi tebak nomor dengan bahasa kreatifnya Toto Gelap alias ‘Togel’.

Dalam beberapa hari kemarin, awak media ini mencoba menyelusuri beberapa tempat yang diduga dijadikan tempat perjudian. Alhasil, sangat mengagetkan dan sesuai data dan informasi yang dihimpun media ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa di Nabire kegiatan perjudian masih sangat marak dan lebih mencengahkan lagi, khusus untuk judi Togel tercatat ada sejumlah bandar yang berani bermain dibalik kegiatan yang notabene melanggar pasal 303 KUHP, larangan kegiatan perjudian ini.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana, sangat jelas menyebutkan bahwa hukum Indonesia melarang kegiatan perjudian dalam bentuk apapun, dimanapun selama masih dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apakah mungkin pasal 303 di kota emas tidak berlaku atau diberlakukan?, karena Nabire bagian dari NKRI.

Lihat saja buktinya, di daerah perkotaan Nabire contohnya, seperti beberapa titik di Karang Mulia (Karmul), Kartum, Kaliharapan, KPR Nabarua, Siriwini, Smoker, Kalibobo dan sejumlah tempat lainnya, banyak tempat-tempat penjualan Togel secara terang-terangan, tanpa ada rasa takut ataupun sedikit khawatir. Bahkan di daerah perkotaan, seperti di belakang Taman Laut Oyehe terbuka dan sangat mudah untuk dikunjungi, belum kegiatan judi lainnya.

Bahkan, penelusuran kuli tinta media ini untuk dua (2) hari kemarin saja, dapat disimpulkan sejumlah tempat perjudian itu dibuka mulai siang hingga malam hari dengan pemutaran nama-nama yang mungkin sangat diketahui para pencinta kegiatan perjudian tersebut, mulai dari Kamboja, Sidney, Singapura atau disebut/singkat SGP dan HK (Hongkong).

Lapak-lapak kegiatan perjudian inipun jelas dan berada di tempatnya terbuka, terlihat oleh orang ramai yang berlalu lalang. Tidak mungkin aparat tidak tahu adanya kegiatan ini? Coba anda bayangkan keadaan ini. Dibayangkan saja mungkin sangat gelih ya.
Lalu siapa saja para pemain judi tersebut? Bebas..siapa saja! tidak perduli mau tukang ojek, pedagang kaki lima, salesman, pedagang bahkan para boss pun kelihatan bersemangat dalam permainan tersebut. Pasang angka atau nomor taruhan dimulai dari nilai Rp.1000 sampai dengan tidak terbatas.

Logikanya, apakah aparat kepolisian dari kalangan bawah sampai dengan atas tidak tahu kegiatan ini? Saya pastikan tidak mungkin!!! Mengapa ? anak-anak kecil saja bisa tahu, masa polisi yang pekerjaannya mengontrol, memantau kegiatan sosial di masyarakat sampai tidak tahu hal ini? Mungkin sangatlah mustahil. Belakangan ini, meskipun mengunakan jaringan seluler sangat sulit, tapi masih saja dapat digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dengan nada ajakan untuk bermain kegiatan perjudian ini, hualam.(wan)