Pasific Pos.com
Papua Barat

2 Tahun Terakhir, Kasus KDRT dan Kekerasan Terhadap Anak di Manokwari Meningkat

Kekerasan Mayoritas Dilakukan Aparat TNI Polri

 

Manokwari, TP – Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan terhadap anak di Kabupaten Manokwari, yang ditangani Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) setiap tahun mengalami meningkatan.

Kepala bidang (Kabid) Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Kabupaten Manokwari, Rika Rumbrawar, menuturkan sejak tahun 2016, kasus KDRT dan kekerasan terhadap anak, meningkat cukup tinggi.

Ia merincikan, berdasarkan kasus KDRT dan kekerasan anak yang ditangani pihaknya, pada tahun 2016 jumlah kasus KDRT sebanyak 55 kasus, sedangkan kekerasan terhadap anak sebanyak 55 kasus.

Sementara, tahun 2017, jumlah kasus KDRT meningkat sekitar 10 persen menjadi 64 kasus, sedangkan kekerasan terhadap anak meningkat menjadi 75 kasus.

“Sementara untuk tahun 2018, kasus yang sudah dilaporkan ke kami sampai awal Juli sudah mendekati 50 kasus,” jelasnya kepada wartawan di kantor Bupati, Selasa (10/7).

Di samping itu, kata dia, yang lebih memperihatinkan lagi, pelaku kekerasan khususnya KDRT dilakukan oleh aparat TNI dan kepolisian.

“Yang sementara kita tangani ini adalah aparat TNI dengan kepolisian yang sementara meningkat cepat sekali, karena mungkin korban baru tahu informasi bisa melaporkan ke kami,” jelasnya.

Menurutnya, meningkatnya kasus KDRT dan kekerasan terhadap anak yang ditangani pihaknya, karena kesadaran para korban kekerasan yang sudah berani melapor, dibandingkan tahun sebelumnya, yang cenderung tidak berani melaporkan.

“Dengan adanya ini, para korban sudah berani. teman-teman ada yang sudah damping sampai ke sidang kode etik kepolisian di Polda Papua Barat,” ungkapnya.

Ia menerangkan, meningkatnya kasus KDRT, turut mempengaruhi kekerasan terhadap anak, sebab bila suami dan istri bertengkar, sebagian besar anak yang menjadi korban.

“Karena misalnya suami istri punya anak 3-4, berarti anak itu bisa terima resiko, bisa satu masalah misalnya perceraian, bisa 3-4 anak yang jadi resiko, seperti tidak diperhatikan atau menjadi terlantar. Jadi, sementara ini kasus TNI dan kepolisian meningkat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, faktor utama terjadinya KDRT adalah perselingkuhan, dan masalah perekonomian, minuman keras (miras).

“Miras ini juga yang harus menjadi perhatian,” tandasnya. [SDR]